Domba untuk Emak

By: Iman Munandar[1]

“Hey ri, melamun saja dari tadi. Bantuin ibu ngangkatin barang-barang ke dalam,” tegur seorang ibu pemilik toko.

“Eh iya bu siap,” Ari membantu pemilik toko yang biasa dipanggil ibu haji. Nama aslinya Astuty Herawati, karena dia sudah haji dipanggillah ibu haji.

Ayah Ari sudah lama tiada, dia hanya mempunyai seorang ibu yang biasa dipanggil ‘emak’ sudah mulai beruban sana-sini. Warung kelontong milik emaknya hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Sebenarnya dia mempunyai beberapa kakaknya yang sekarang sudah pisah rumah. Jangankan membantu dirinya untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya, menghidupi mereka sendiripun susah.

Sudah lama Ari bekerja di toko ibu haji, yang dia inginkan kebutuhan sekolahnya terpenuhi. Meskipun dia sendiri tidak bisa seperti teman-teman sekelasnya yang bisa mengikuti kursus bahasa inggris dan bimbingan belajar. Uang hasil dari bantu-bantu ibu haji, dia kumpulkan untuk membeli buku, peralatan tulis, dan mewujudkan mimpinya.

Ari bekerja pada ibu haji sepulang dari sekolahnya sampai menjelang magrib. Waktu magrib sudah menjadi kebiasaan ia belajar mengaji al-Qur’an d masjid. Sepulang dari masjid, biasanya dia membantu emaknya menjaga warung sebagai sumber kehidupan keluarganya. Dalam keadaan seperti itu dia masih bisa belajar walaupun terkadang tidak nyaman, tapi itu resiko yang mesti dihadapi. Pada semester kemarin, dia masuk ranking 10 besar. Ranking 10 besar lumayan bagus, karena tempat belajarnya adalah SDN favorit di daerah Kabupaten Bandung barat.

Ari merasa kurang dalam mata pelajaran bahasa inggrisnya. Dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya, rata-rata semuanya mengikuti kursus bahasa inggris. Dia ingin seperti teman sekelasnya, Revina, yang fasih berbicara bahasa inggris. Dia tahu ikut kursus butuh biaya  yang cukup lumayan mahal baginya. Dia pun bertekad mengumpulkan uangnya lagi, agar bisa ikut kursus bahasa inggris.

Sehari-hari Ari sibuk melayani para pelanggan ibu haji.  Hitung-hitungan sudah biasa baginya, dan dia sudah bisa beradaptasi dengan ibu haji. Penghasilan dari ibu haji cukup buat kebutuhan uang jajan dan sekolahnya.

“Ri, ni uang saku buatmu. Tetap rajin belajar ya,” nasehat yang sering dilontarkan oleh ibu haji kepada Ari.

“Terimakasih banyak bu,” Ari bergembira menerima uang dua puluh ribu dari ibu haji. Biasanya dia Cuma dapat uang dari ibu haji lima ribu sampai delapan ribu perharinya. Ini jatah lebih baginya, uang itu dia masukkan ke dalam kencelengannya. Dia menghitung tabungannya, lumayan sudah banyak, tinggal sedikit lagi nambah uangnya. Dia membayangkan dirinya bisa ikut kursus bahasa inggris, dan bisa berpidato bahasa inggris bersama Revina di sekolahnya nanti. Dia hanya bisa tersenyum, pasti keinginannya akan terwujud pada suatu hari.

“Mak, dari tadi diam saja. Gimana mak gorengannya sudah laku belum?”

“Masih banyak gorengannya ri. Hari ini lagi sepi,” jawab emak.

“Mm insya Allah mak pasti ada yang mau beli gorengan ini,” Ari mencoba menenangkan hati emaknya.

“Sebentar lagi hari idul adha. Berbahagialah bagi mereka yang akan beribadah haji dan membagikan daging kurbannya kepada orang-orang yang sangat membutuhkannya.”

Ari hanya diam mendengarkannya, mengerti maksud emaknya Sudah lama emak ingin naik haji, tapi itu hanya dalam mimpi. Sebenarnya emaknya ingin berbagi kebahagiaan kepada orang-orang yang tidak mampu pada hari idul adha ini. Itulah Ari sering mendengar rintihan doa emaknya di penghujung sepertiga malam, bahwa emak selalu berdoa agar keinginannya berqurban di hari idul adha ini dikabulkan. Keinginan emaknya hanya itu, dia ingin mengikuti jejak langkah Nabi Ibrahim yang mengurbankan anaknya Ismail (diganti dengan seekor kambing oleh Allah) untuk menaati perintah Allah. Selain itu, dia ingin berbagi kebahagiaan kepada orang-orang yang tidak mampu.

Malam ini yang sangat menentukan, memutuskan untuk hari esok. Ari masih bingung, apakah uang yang selama ini kumpulkan untuk mewujudkan keinginan dirinya atau keinginan emaknya untuk berqurban di hari idul Adha? Dia belum bisa memutuskan, masih ragu memilih di antara dua pilihan.

Lomba pidato berbahasa Inggris antar kelas akan dimulai hari ini, dari kelas 5 hingga kelas 6 SD. Ari ingin sekali tampil pada perlombaan bahasa inggris ini. Dari kelas dia, kelas 5, hanya ada 7 orang yang tampil pada lomba pidato berbahasa Inggris ini. Dia hanya sebagai penonton dan penggembira bagi teman-teman sekelasnya yang tampil. Perlombaan pidato bahasa Inggris dilaksanakan setahun dua kali. Dia sudah bertekad harus jadi peserta perlombaan pidato bahasa Inggris pada tahun depan. Perlombaan pidato bahasa Inggris adalah perlombaan yang paling bergengsi di sekolahnya.

Hari-hari telah terlewati, keringat terus mengalir. Tak terasa saat ini uang yang terkumpul suda ada sekitar Rp. 950.000,00. Cukup uang ini untuk bisa ikut kursus bahasa Inggris selama 4 bulan ke depan, jika uang itu kurang bisa ditutupi dengan hasil kerja kerasnya lagi. Kerja keras dan selama dua tahun Ari menabung tidak sia-sia, sebentar lagi impiannya akan terwujud. Dia tersenyum, membayangkan dirinya ikut kursus bahasa inggris dan bisa mengalahkan Revina sang juara. Dan berharap Revina tersenyum dan senang pada dirinya.

Pekan depan Ari sudah memutuskan untuk mendaftar jadi siswa lembaga bahasa Inggris. Wajahnya sumringah selalu, dan dia berdiri di hadapan cermin, membayangkan dirinya jadi siswa lembaga bahasa Inggris. Belum mendaftar saja dia sudah semangat, apalagi kalau sudah resmi jadi siswa lembaga bahasa Inggris, kebahagiaan yang tak terbayangkan.

Alangkah bahagianya Ari hari ini. Dia ingin mengumumkan bahwa dirinya pasti akan berhasil jadi siswa lembaga bahasa Inggris. Kata orang, belajar bahasa Inggris itu sulit, kalaupun mau bisa harus ikut kursus. Apalagi bagi orang-orang yang ekonominya kelas bawah, mustahil bisa ikut kursus yang lumayan mahal. Dia hanya ingin berteriak, “ aku takkan pernah menyerah untuk menaklukkan mimpi-mimpi yang tidak mungkin, takkan pernah menyerah, takkan pernah…!”

Setibanya di rumah, Ari melihat emaknya sedang melamun sambil menunggu barang dagangannya yang kurang laku. Dia mengerti keinginan emaknya, merasa kasihan pada emaknya yang hampir tiap hari melamun. Hari idul adha tinggal beberapa hari lagi, dia masih ragu untuk memilih untuk keinginan dirinya sendiri atau keinginan emaknya.

Ari masuk ke kamarnya, merebahkan dirinya di atas kasur. Dia menatap langit-langit, sebentar lagi akan mewujudkan keinginannya untuk ikut kursus bahasa Inggris atau membahagiakan emaknya untuk membeli domba sebagai hewan kurban di hari raya idul adha. Dia membayangkan perjuangan emaknya memasukkan dirinya di SD paling favorit ketika abahnya telah tiada. Kasih sayang emak pada dirinya takkan pernah bisa dibalas, tapi dia ingin membahagiakan emaknya. Akhirnya dia memutuskan untuk membahagiakan emaknya.

Pagi hari yang cerah, Ari sudah berangkat ke pasar untuk membeli seekor domba. Dia menanyakan harga domba pada tiap Bandar domba. Para Bandar domba menganggapnya remeh, tak mungkin anak SD itu bisa membeli domba, apalagi dengan harga murah.

Ari sudah hampir putus asa, ternyata harga domba saja rata-rata harganya berkisar antara Rp. 1.300.000,00 s/d 1.600.000,00. Dia berpikir, apakah ada orang yang mau menjual dombanya dengan harga Rp. 950.000,00? Tak mungkin, katanya dalam hati. Masih ada harapan pikirnya, tinggal satu Bandar lagi. Dia hanya bisa berdoa, semoga Allah membuka hati Bandar yang terakhir ini. Diapun berangkat ke tempat tinggal Bandar domba yang terakhir itu.

Setibanya di tempat Bandar terakhir, dia menanyakan harga domba miliknya. Harganya tidak jauh berbeda dengan harga Bandar-bandar yang lainnya. Dengan nada tersedu-sedu Ari mengungkapkan keinginannya untuk membahagiakan emaknya.

“Apakah bapak mau menjual domba ini kepadaku dengan harga Rp. 950.000,00?”

Hati si Bandar itu tersentuh, dia belum pernah melihat ada seorang anak kecil dengan kerja kerasnya ingin membahagiakan emaknya. Dengan hati yang ikhlas, akhirnya dia bersedia menjual dombanya dengan harga Rp. 950.000,00.

Ari pun bergembira, akhirnya dia bisa mewujudkan keinginan emaknya untuk berqurban pada hari idul adha ini. Dia dan dombanya diantarkan oleh si Bandar tersebut. Dia berlari ke rumahnya.

“Emakk… cepat keluar, lihat ini,” teriak Ari yang hampir saja mengagetkan emaknya.

Emaknya segera keluar, kaget melihat anaknya membawa domba yang lumayan besar.

“Domba untuk siapa ri?” Tanya emaknya.

“Untuk emak.”

“Uang darimana kamu bisa beli domba montok ini?”

Ari mengerti keraguan emaknya. “Sudah dua tahun lamanya Ari ngumpulin uang. Al-hamdulillah akhirnya bisa beli domba montok ini. Ini juga berkat pak haji yang baik hati menjual harganya dengan murah,” si Bandar itu hanya tersenyum mendengar dirinya dipanggil pak haji, padahal dirinya belum pernah berhaji.

Emaknya jatuh berlutut dengan genangan air matanya yang tak bisa dibendung. Tak disangka, ternyata keinginannya untuk berqurban hari idul adha ini datang melalui anaknya sendiri. Emak pun bersujud syukur.

Selesai….


[1] Kepala Dept. kebijakan Publik KAMMI Daerah Bandung 2009-2010

About brigdhero

BERGERAK ATAU TERGANTIKAN
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s