AKU INGIN

By; Iman Munandar

Tak terasa usiaku kini menginjak 38 tahun. Peristiwa-peristiwa sudah terlewatkan, kini aku dan suamiku mengelola sebuah pondok pesantren yang cukup terpandang di Kabupaten Bandung.  Ya memang tidak mudah  mengelola pesantren agar tetap bertahan reputasinya di mata masyarakat. Pesantren ini warisan Abah kepada putera-puetrinya, aku memiliki 6 bersaudara. Semuanya kini mengelola pesantren ini.

Setelah mengajarkan bahasa arab kepada santri-santri, aku pulang ke rumah menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anakku. Semuanya sudah siap, sambil menunggu mereka aku menghidupkan TV. Siang ini hampir seluruh TV nasional menyiarkan berita pemilihan ketua DPR RI. Hasil pemilihan pada pemilu legislative mayoritas berwajah muda dan baru. Dengan pemilihan berdasarkan voting akhirnya yang terpilih jadi ketua DPR adalah seorang anak muda dan cukup berwibawa kelihatannya. Kulihat wajah dan namanya, kurasa aku pernah mengenalnya, tapi entah di mana.

Anak-anak sudah tidur semuanya. Aku dan suamiku menonton sebuah siaran special yang mewawancarai seorang yang masih muda kini menjabat sebagai ketua DPR RI baru terpilih. Sesi wawancara pun terjadi. Aku berpikir memang orang ini pantas jadi ketua DPR RI. Dari gaya bicaranya yang kalem dan elegan bisa memukau para pemirsa. Perasaanku pernah mengenalnya, tapi aku lupa lagi.

“Kira-kira pengalaman apa yang berpengaruh pada kehidupan bapak?” Tanya presenter TV tersebut.

“Mmm apa yach.. ketika saya masih di pesantren pernah jatuh cinta pada seorang santriwati. Dan saat itu juga saya memberanikan membacakan sebuah puisi  karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul ‘AKU INGIN’ di depan kelas si santriwati tersebut. Ya konsekuensinya saya kena hukuman dari pesantren,” jawab lelaki itu dengan santai. Presenter dan pengamat politik tersenyum mendengarkan, kedengarannya aneh.

Sepertinya peristiwa ini pernah terjadi pada diriku beberapa waktu yang lalu saat aku masih MTS (setingkat SLTP). Coba kuingat-ingat, apakah dia memang kakak kelasku dulu di pesantren, benarkah ini kak Ipul yang dulu? Kalau memang ini kak Ipul yang bernama Saiful Amri Fakhruddin, subhanallah ternyata sekarang dia jadi elit politik.

“Kenapa Umi senyum-senyum? Umi kenal ya,” Tanya suamiku terheran-heran.

“Iya Abi, kalau tidak salah dia kakak kelas umi waktu pesantren dulu.”

“Terus siapa santriwati yang dimaksudkan?”

Hatiku berdegup ketika suamiku bertanya siapa santriwati tersebut, terpaksa aku pun berbohong, ”mmm teman Umi sekelas dulu.”

“Oh gitu ya, ya udah kita istirahat mi, udah malam.”

Malam ini aku susah untuk tidur. Tidak kusangka perubahan yang menimpa kak Ipul. Ah terkadang kehidupan ini memang aneh. Kucoba mengingat alur cerita antara aku dan dia.

*****************************

Saat itu aku resmi jadi seorang santri di sebuah pondok pesantren modern yang cukup terkenal dengan dua bahasa asingnya. Walaupun abah punya pesantren sendiri, dia tetap bersikukuh harus memesantrenkan anak-anaknya di pesantren yang terkenal, agar suatu saat setelah kami kembali bisa mengembangkan pesantrennya sendiri.

Waktu demi waktu telah kujalani kehidupan di pesantren, al-hamdulillah aku juara 1 pada semester pertama. Keluargaku pun bangga melihat puteri bungsunya mendapatkan penghargaan dari pesantren.

Akhirnya aku naik ke kelas dua Mts. Dengan semangatnya aku belajar terus menerus, dan kini aku  bisa berpidato dengan dua bahasa asing, ‘sempurna’ kata ustadz yang mengujiku. Aku bangga bisa terpilih jadi duta dari pesantren pada kegiatan perlombaan se Indonesia.

Waktunya istirahat sekarang, akupun siap-siap masuk ke kamar. Kakak kelasku berjalan mengarah padaku. Dengan berbisik-bisik dan menyembunyikan sesuatu kepadaku.

“Fatimah, ini ada surat dari temanku untukmu. Hati-hati jangan sampai ketahuan ma asatidzah (ustadzah),” bisik kak Mega.

Aku pun bersikap tenang biar tidak terlihat mencurigakan. Tiba di kamar, aku pun membaca surat tersebut. Tak kusangka, ternyata isi tulisannya mengungkapkan rasa cinta padaku. Dia meminta jawaban dariku, apakah rasa cinta ini harus kuterima? Aku tahu bahwa pacaran atau ikhtilat di pesantren sangat terlarang, konsekuensi hukumnya sangat berat. Lagi pula nama lelaki itu bukanlah santri yang mempunyai prestasi.

Dua hari kemudian, aku memberikan sebuah jawaban kepada kak Mega. Bahwa aku menolak cintanya, dan tidak mau pacaran.

Pada waktu siang ketika kebetulan para asatidz sedang ada rapat, tiba-tiba di depan kelasku semua kakak kelas berkumpul, ada seorang lelaki maju ke depan dan berteriak memanggil namaku. Dia berteriak dengan suara gagap akan membacakan sebuah puisi untukku. Aku sangat malu dipermalukan seperti ini di depan umum.

Dia akhirnya membacakan sebuah puisi ‘AKU INGIN’

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Damono, 1989)

Peristiwa ini menjadi berita utama di pesantren, dan akhirnya dia kena hukuman yang sangat berat. Peristiwa ini juga yang membuatku sangat malu.

Ketika dia lulus UAN Mts, dan tidak melanjutkan lagi di pesantren ini. Pernah dia mengirimkan sebuah surat kepadaku, menyatakan permohonan maafnya padaku. Dia berkeyakinan pasti suatu saat nanti akan bertemu lagi. Pengirim surat itu bernama Ipul, namanya Saiful Amri Fakhruddin. Kurobek dan dibuang surat yang tidak penting itu.

**********************

Sudah enam tahun lamanya pesantren, al-hamdulillah akhirnya aku diterima di Universitas Islam Negeri Bandung. Seperti mahasiswa pada umumnya aku menjalani kehidupan kampus, seperti kuliah dan berorganisasi. Aku lebih tertarik pada organisasi komunitas pengembangan bahasa asing. Saat itulah kampus kerap memilih diriku sebagai duta kampus dalam acara debat dengan menggunakan bahasa Arab dan Inggris. Walaupun hanya meraih juara 2, aku bangga bisa mengalahkan para competitorku dari kampus UI, ITB, IPB, dan kampus-kampus lain.

Pada saat itu suasana politik nasional sedang panas. Semua gerakan mahasiswa turun ke jalan hampir setiap hari. Menuntut dibereskannya kasus bank Century yang diduga melibatkan para elit politik. Sementara di kampusku poster-poster propaganda menempel di mana-mana, dan mimbar kampus kerap terjadi setiap hari menghimbau kepada seluruh mahasiswa untuk segera bergabung turun ke jalan tuntaskan century gate dan ganti rezim.

Sementara di gedung DPR dalam sidang pansus century banyak temuan yang ganjil. Terkesan pemerintah menutupi rapat kasus ini, walaupun dalam retorika politik ‘kasus korupsi harus diberantas tanpa pndang bulu’ selalu digaungkan.

Sebenarnya aku tidak suka politik, namun keadaan yang mendesak memaksa diriku untuk mengambil peran. Kasus century jika dilihat nominalnya memang tidak sebanding dengan kasus BLBI. Kasus BLBI hingga kini masih terkatung-katung memang tidak diimbangi dengan proses politik. Tentunya kita tidak menginginkan kasus century seperti kasus BLBI yang telah tenggelam pada dasar lautan. Rakyatlah yang harus menanggung kerugian BLBI.

Semua elemen gerakan mahasiswa melakukan rapat akbar di ITB. Terjadi perbedaan pendapat politik, semuanya bagiku ini hanya ajang untuk cari muka. Maklum selama ini aku bukan orang politik, baru saja masuk pada cabinet BEM universitas, tidak begitu mengerti tentang perpolitikan. Aku dan teman-temanku perempuan semuanya diam tanpa kata, tapi kami sepakat untuk turun aksi. Karena sekali lagi ini keadaan yang mendesak memaksa kami harus terlibat dalam proses perubahan negeri ini.

Aku melihat seorang mahasiswa yang berargumentasi pentingnya semua mahasiswa untuk turun ke jalan menekan para semua pemegang kebijakan public untuk menyelesaikan kasus century tanpa pandang bulu. Semuanya sepakat turun ke jalan, walaupun secara teknis tidak ada kesepakatan aliansi. Ternyata aku mengenalnya, orang yang berbicara tadi kak Ipul.

Ketika kami hendak pulang, tiba-tiba kak Ipul memanggil namaku. Kami pun sebentar bercakap-cakap. Setelah peristiwa century ini, dia sering berkomunikasi denganku. Aku hanya menganggap dia hanya sebagai sahabat, tidak lebih dari itu. Suatu hari, dia datang ke rumahku. Aku tidak tahu maksud kedatangannya.

Ternyata dia datang bermaksud untuk melamarku, aku kaget tidak menyangka hal ini bisa terjadi. Kedua kalinya aku dipermalukan oleh lelaki ini di depan keluargaku. Aku memberanikan diri untuk berkata:

“Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada kakak. Selama ini saya menganggap kakak hanya sebagai teman. Kakak bukan orang yang hadir dalam hati saya ini.”

“De Ipul sudah ngerti apa maksud anakku?” Tanya abah pada kak Ipul.

“Iya pak saya ngerti. Kalau begitu saya mohon pamit dulu. Wassalamu ‘alaikum.”

***********************************************

Itulah kisah yang terjadi anatara aku dan dia. Aku bangun dari tempat tidur, menghidupkan computer yang tersambung dengan internet. Aku mencari profile dia dan puisi yang berjudul ‘AKU INGIN’. Akhirnya aku telah menemukannya, aku tidak menyangka perubahan yang terjadi padanya. Telah banyak keberhasilan yang telah diraihnya, entah resep apa yang merubah dirinya. Sangat jauh berbeda keadaan dia 20 tahun lebih yang lalu. Selama ini aku selalu menganggap dia rendah dari berbagai hal. Tapi akhirnya bisa seperti ini, begitu hebat. Apakah puisi ini berpengarh pada perbahan dirinya? Aku mencoba untuk memahami puisi itu, namun aku tidak mengerti apa maksud puisi ini. Tapi aku ingin membacanya sekali lagi;

AKU INGIN’

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Damono, 1989)

Al-hamdulillah selesai di Cililin jam 15.22 21 septmber 2010.

Iman Munandar (085294553964)

About brigdhero

BERGERAK ATAU TERGANTIKAN
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s