Menghidupkan Kembali Idealisme Aktivis Mahasiswa melalui Puisi Soe Hok Gie

By; Iman Munandar

Siang itu di sebuah tempat yang teduh di sekitar Bandung, saya dengan salah satu mantan aktivis mahasiswa 1998 ngobrol cukup lama tentang gerakan mahasiswa masa lalu dan masa kini. Inti dari obrolan tersebut; sangat kurangnya semangat idealisme aktivis gerakan mahasiswa untuk mendinamisasi politik kampus. Mungkin hal tersebut dialami oleh KAMMI juga yang lahir dari masa-masa yang sangat menentukan untuk melahirkan era reformasi. Jangankan untuk dinamisasi politik kampus, untuk melakukan diskusi dan menulis dengan konteks social politik kontemporer sangat jarang sekali. Wajar jika para aktivis sekarang miskin gagasan intelektual. Apalagi jika ada konsolidasi aksi, banyak alasan yang dikemukakan, “afwan ana ada kuliah, jadi gak bisa aksi. Afwan ana ada agenda jadi gak bisa aksi.” Pada saat liburan pun sama alasan konyolnya, “afwan ana lagi pulang kampung.” Itulah alasan-alasan yang terus berputar dari bulan January kembali lagi ke bulan January tahun berikutnya. Berbeda dengan isu Palestina, tanpa adanya rasionalisasi aksi pun, siap turun. Apalagi jika ada taklimat, siap mengorbankan waktu apa saja. Itulah realita yang dihadapi oleh yang ngaku-ngaku sebagai aktivis gerakan atau aktivis dakwah kampus.

Permasalahan di atas mungkin terjadi karena sangat kurangnya semangat idealismenya sebagai aktivis gerakan. Walaupun sekarang berbeda zaman sudah bukan zamannya menurunkan penguasa. Namun yang perlu disadari bahwa dunia mahasiswa adalah dunia untuk pengembangan diri (kepemimpinan) dan intrelektualnya. Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa ini masih relevan. Oleh karenannya membangkitkan semangat idealisme mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa ini suatu keharusan.

Dalam tulisan ini, kita akan focus cara membangkitkan semangat idealisme aktivis mahasiswa melalui puisi-puisi Soe Hok Gie. Judul tulisan ini terinspirasi dengan nasehat Umar bin khatab; “Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu, agar anak pengecut jadi pemberani.” Nasehat tersebut perlu dihayati oleh kita semua dengan penghayatan mendalam. Puisi, cerpen, atau novel bagian dari sastra. Jika kita membaca novel KCB, A2C, etc, tidak jarang diantara kita ingin seperti yang ada di novel tersebut. Entah masalah jodoh yang cantik/tampan + sholeh/sholehah. Begitu juga ketika kita membaca novel tetralogi BURU karya Pramoedya Ananta Toer atau novel-novel karya Afifah Afra kita juga terinspirasi ingin menjadi seperti tokoh cerita yang ada di novel tersebut. Oleh karena itu karya-karya sastra yang berorientasi pergerakan atau social politik sangat harus dibaca oleh para aktivis gerakan mahasiswa.

Sesuai dengan judul tulisan ini, kita akan mencoba menghayati puisi-puisi Soe Hok Gie yang terkenal lewat buku Catatan Seorang Demonstran dan film GIE. Gie adalah seorang demonstran tahun 1966 yang menurunkan rezim orde lama. Soeripto, Akbar Tanjung, Cosmas Batubara, Fahmi Idris, Taufik Ismail, etc, mereka adalah tokoh bangsa ini yang masih hidup, mereka satu angkatan dengan Soe Hok Gie.

Puisi pertama di bawah ini adalah puisi yang ditulis Soe Hok Gie yang berbicara tentang perjuangan tanpa kenal lelah, tanpa takut resiko apapun. Puisi tersebut ditulis oleh Gie yang berjudul “Tentang Kemerdekaan;”

Kita semua adalah orang yang berjalan dalam barisan

Yang tak pernah berakhir,

Kebetulan kau baris di muka dan aku di tengah

Dan adik-adikku di belakang,

Tapi satu tugas kita semua,

Menanamkan benih-benih kejantanan yang telah kau rintis

Kita semua adalah alat dari arus sejarah yang besar

Kita adalah alat dari derap kemajuan semua

Dan dalam berjuang kemerdekaan begitu mesra berdegup

Seperti juga perjalanan di sisi penjara

Kemerdekaan bukanlah soal orang-orang yang iseng dan pembosan

Kemerdekaan adalah keberanian untuk berjuang

Dalam derapnya, dalam desasnya, dalam raungnya kita

Adalah manusia merdeka

Dalam matinya kita semua adalah manusia terbebas

Salah satu hobi Soe Hok Gie adalah mendaki gunung-gunung yang tinggi. Baginya, sebagai salah satu pendiri MAPALA UI, mendaki gunung adalah satu sarana untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air. Sebagaimana Gie menjelaskan misi mendaki ke gunung Mahameru (Semeru, gunung tertinggi di Jawa) kepada teman-temannya;

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Lembah Mandalawangi-Pangrango adalah tempat favorit Gie. Gie membuat puisi dengan judul Mandalawangi-Pangrango;

Senja ini, ketika matahari turun

Ke dalam jurang-jurangmu

Aku datang kembali

Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu

Dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara

Tentang manfaat dan guna

Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan

Dan aku terima kau dalam keberadaanmu

Seperti kau terima daku

Aku cinta padau, Pangrango yang dingin dan sepi

Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada

Hutanmu adalah misteri segala

Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan

Menyelimuti Mandalawangi

Kau datang kembali

Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“Hidup adalah soal keberanian

Menghadapi yang tanda Tanya

Tanpa bisa kita mengerti, tanpa bisa kita menawar

Terimalah, dan hadapilah”

Dan antara ransel-ransel kosong

Dan api unggun yang membara

Aku terima itu semua

Melampaui batas-batas hutanmu

Melampaui batas-batas jurangmu

Aku cinta padamu Pangrango

Karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966

Soe hok Gie

Pada tulisan ini memang tidak sempurna jika tidak dicantumkan puisi-puisi Gie terutama tentang cinta. Dalam tulisan ini hanya focus untuk membangkitkan semangat idealisme aktivis gerakan mahasiswa. Semoga bermanfaat.

Selesai di Cililin, jam 01.00 tgl 02-08-2010

About brigdhero

BERGERAK ATAU TERGANTIKAN
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s