Membangun Kesadaran Sejarah Nasionalisme Ekonomi Baru

By; Iman Munandar

Sebuah Pengantar

Pada tahun 1992 para Futurolog memprekdisikan Indonesia pada masa yang akan mendatang mampu bersaing dengan Negara-negara maju dalam bidang perekonomian. Harapan tinggal harapan, ketika krisis moneter pada tahun1997 melanda Indonesia runtuhlah kedigdayaan perekonomian yang dibangun oleh Orde Baru. Lebih sialnya lagi Rezim Orde Baru menerima resep-resep dari IMF, salah satu perjanjian yang sangat merugikan ialah liberalisasi ekonomi tanpa batas. Perjanjian tersebut memang sengaja dibuat oleh IMF sebelum alm. Soeharto turun, agar perjanjian tersebut tetap dilanjutkan oleh presiden-presiden berikutnya. Hal tersebut menjadi kenyataan hingga saat ini.

Seperti yang dikatakan oleh Francis Fukuyama, berakhirnya rezim Uni Soviet sebenarnya seluruh Negara maju telah mengadopsi, dan tengah berusaha untuk mengadopsi lembaga politik demokrasi liberal dan secara simultan bergerak ke arah ekonomi berorientasi pasar dalam penyatuan ke dalam pembagian kerja kapitalis global. Memang menjadi suatu keniscayaan peradaban yang lemah akan mengikuti peradaban yang lebih maju, sebagaimana yang disiratkan oleh oleh ibnu khaldun Siklus Peradaban. Francis Fukuyama menyatakan hal tersebut sebagai ‘Akhir Sejarah,’ sebagaimana dalam kacamata sejarah Marxis-Hegelian ‘sebagai keniscayaan evolusi masyarakat manusia secara luas menuju satu tujuan akhir.’

Jadi adalah hal yang wajar tatkala Negara kita mengadopsi lembaga politik demokrasi liberal dan ekonomi pasar bebas, salah satu contohnya adalah menerima resep-resep generic dari IMF. Dibelahan Negara-negara lain pun mengalami kesulitan dan keterpurukan ketika mengadopsi lembaga demokrasi liberal dan ekonomi berorientasi pasar, terutama Negara-negara bekas rezim komunis. Negara Indonesia tidak jauh berbeda kondisinya, walaupun secara politik sukses, namun secara ekonomi masih terombang-ambing. Memang SBY pernah menolak resep generic dari IMF, tapi masalahnya jalan-jalan yang ditempuh masih yang dulu dibuatkan oleh IMF.

Luis Ignacio Silva (Lula) ketika terpilih sebagai presiden Brazil, dia membuat kebijakan untuk menghentikan sementara pembayaran hutang negaranya kepada IMF. Dia beralasan uang Negara saat ini difokuskan untuk membangun insfrakstruktur ekonomi Negara yang kuat, dan dia berjanji apabila insfrakstruktur ekonomi Negaranya kuat akan segera dilunasi hutang negaranya.

Sebagaimana yang dilakukan oleh Thaksin Shinawarta, Presiden Thailand saat itu, dengan cepat mengubah kebijakan yang tadinya pro IMF menjadi pro rakyat, dan hasilnya menggembirakan. Namun sayangnya warna otoriternya terlalu kuat, akhirnya dikudeta oleh militer.

Kemajuan ekonomi yang dialami oleh Brazil, Cina, Jepang, dan Korea Selatan, karena penghormatan terhadap kebudayaan, gerakan anti korupsi, dan nasionalismenya begitu tinggi. Mereka punya kepercayaan bahwa mereka mampu mengatasi kesulitan ekonomi negaranya sendiri. Sehingga mereka tidak sepenuhnya percaya terhadap ekonomi liberalisme. Maka sudah saatnya ekonomi Negara kita mengikuti jejak Negara Brazil, Cina, Jepang, Korea Selatan, dan India.

Sudah saatnya generasi muda bangsa kita memiliki kesadaran sejarah untuk menentukan nasib bangsanya ke depan. Karena kita punya keyakinan masa depan bangsa kita yang cerah.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat/masa depan); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan..” (QS. Al-Hasyr: 18)

************

Berawal terpancing dari tulisan mas Tata (eks KAMMI Bandung 2007-2009) tentang Ekonomi Neolib dan Nasionalisme Ekonomi Baru, saya berinisiatif untuk membentuk group diskusi KAMMI temanya focus membangun Indonesia ke depan. Alasan saya, seluruh kader KAMMI Bandung Raya memiliki pendidikan berbagai disiplin ilmu, dan mereka adalah generasi penerus bangsa ini.

Gagasan tersebut saya obrolkan kepada beberapa pengurus KAMMI daerah Bandung, alhmdulillah mereka memberikan apresiasi. Saya bersama mas Hilal sepakat membawa gagasan tersebut pada rapat Dept. kebijakan Publik untuk diformalkan. Karena kesulitan member nama, akhirnya nama yang disepakati adalah Institute of Social Politic for Indonesian Futere (INSPIRE). Insya Allah kami mempunyai kesadaran sejarah untuk menentukan nasib bangsa kami sendiri, tidak akan menunggu untuk dikendalikan kekuatan sejarah lain sebagai objek.

Selesai jam 11.00 di Cililin, 17 Juni 2010.

Iman Munandar, Anggota Biasa KAMMI Bandung. 085294553964

Sumber rujukan

Ann Wang Seng, Rahasia Bisnis Orang Korea, penerbit Hikmah, Jakarta, 2007

Francis Fukuyama, Trust, The Social Virtues and The Creation of Prosperity (terjemahan), Penerbit Qalam, Yogyakarta, cet. 2, 2007.

Ishak Rafick, Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia, Penerbit Ufuk, Jakarta, cet. 2, 2008

George T. Haley, dkk, The Chinese Tao Busines, penerbit Hikmah, Jakarta, 2007.

Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu, Epistemologi, Metodologi, dan Etika, Tiara Wacana, Yogyakarta, 2006

Kwik Kian Gie, Ekonomi Indonesia dalam krisis dan Transisi Politik, Gramedia, Jakarta, 1999

Murtadha Muthahhari, Menguak Masa Depan Umat Manusia, Pustaka Hidayah, Bandung, 2001.

Sirtua Arif, Negeri Terjajah menyingkap Ilusi Kemerdekaan, Resist Book, Yogyakarta, 2006.

About brigdhero

BERGERAK ATAU TERGANTIKAN
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s