MELURUSKAN PENYIMPANGAN PEMAHAMAN TERHADAP PEMIKIRAN SAYYID QUTHB

By; Iman Munandar[1]

Saya kaget membaca artikel di Republika online yang memuat pernyataan Yusuf Qhardhawi ‘bahwa Sayyid Quthb adalah orang yang bertanggung jawab atas berkembangnya pemikiran Islam radikal,’ terutama masalah hukum takfir (mengkafirkan). Sebelum kritikan Yusuf Qhardhawi terhadap Sayyid Quthb, memang telah banyak kritikan atas pemikiran Quthb yang tertuang dalam buku Petunjuk Jalan (Ma’alim fit Thoriq) dan tafsir Fi Zhilalil Qur’an, baik pemikir Islam maupun orientalis. Mereka menisbatkan perkembangan gerakan ekstremis pada jubah Sayyid Quthb.

Bertepatan dengan ramainya terorisme di Indonesia oleh media massa, banyak para pihak mengaitkan masalah gerakan Islam ekstremis (Jaringan Teroris) dengan pemikiran Sayyid Quthb, terutama tentang konsep masyarakat jahiliah pada masa kini. Saya tertarik untuk segera menuangkan ide saya di atas tulisan ini untuk meluruskan permasalahan penyimpangan pemahaman terhadap pemikiran sayyid Quthb. Saya menemukan Sebuah buku yang berjudul “Butir-butir Pemikiran Sayyid Quthb”, K.Salim Bahasawi, di perpustakaan pribadi saya, buku tersebut mencoba meluruskan penyimpangan pemahaman-pemahaman yang dinisbatkan pada Sayyid Quthb. Insya Allah saya akan menguraikannya sebagai berikut;

Dalam buku tersebut dirangkum tuduhan-tuduhan terhadap Sayyid Quthb sebagai berikut;

1. Sayyid Quthb telah mengkafirkan orang-orang Islam meskipun mereka melaksanakan shalat, puasa, dan haji, kecuali yang ikut menjadi anggota thandzhim (ikhwanul Muslimin).

2. Ia menilai masyarakat muslim tergolong dalam darul harb yang harus diperangi, wajib dihancurkan serta tidak boleh dibiarkan hidup.

3. Ia menghimbau agar mengisolasi diri dari masyarakat, bukan saja perasaan , tapi lebih dari itu secara eksitensi. Ini dimaksudkan agar tidak terjalin hubungan antara mereka dengan masyarakat, lantaran hal itu akan menguatkan masyarakat yang sebenarnya ingin dihancurkan.

4. Ia menyeru untuk membangun hubungan antara muslimin dan selain mereka atas dasar hukum darul harb walaupun mereka tidak menyerang orang-orang Islam[2].

Jika kita mengkaji pemikiran Sayyid Quthb secara mendalam dan komprehensif, sebenarnya pemikiran ia jauh dari tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepadannya. Oleh sebab itu saya mencoba menguraikan masalah di atas sebagai berikut;

1. Dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb menafsirkan Qur’an Surat an-Nisa : 94 yang artinya “… dan janganlah kamu menyatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu, ‘kamu bukan orang mukmin.” Ia menjelaskan bahwa cukup memeluk Islam dengan dua kalimat Syahadat, dan tidak ada dalil yang membatalkanya. Dalam interogasi tindak pidana 12/1965 yang dilakukan oleh Badan Intelijen Mesir kepada Sayyid Quthb tentang “apakah ada perbedaan antara muslim yang tergabung dalam ikhwanul muslimin dengan diluarnya?” dia menjawab; “Yang unik pada ikhwan adalah mereka memilih suatu progam yang jelas dalam merealisasikan Islam. Oleh karena itulah dalam pandangan saya, mereka lebih saya dahulukan daripada mereka yang tidak mempunyai progam. Perbedaan di sini bukan bersifat personalitas melainkan dari sisi bahwa jamaah ikhwan memiliki progam. Dan setiap individu di dalamnya terikat dengan progam dalam upaya merealisasikannya. Inilah keunikannya.” Jadi sangat jelas bahwa Sayyid Quthb tidak mengkafirkan umat Islam yang berada di luar jamaah ikhwan.

2. Anggapan selanjutnya, menurut mereka, Sayyid Quthb menganggap nonmuslim adalah Darull Harb (Negara musuh) maka wajib mengacungkan pedang untuk menghancurkan mereka meski tidak melanggar hak-hak kaum muslim, adalah jelas mengada-ada. Ia memberi komentar pada ayat-ayat Surat at-Taubah sampai ayat ke-22, “turun untuk menjelaskan hubungan-hubungan final antara masyarakat Islam – yang telah stabil keberadaannya di Madinah dan jazirah Arab secara umum- dan kaum musyrik yang masih tersisa di jazirah Arab.” Dengan demikian ayat tersebut ditujukan khusus pada orang-orang musyrik di jazirah Arab, bukan pada untuk umum umat Islam di muka bumi.  Dan janji mu’ahidin tetap dihormati.  Al-Ustadz Yusuf al-Adzam-orang yang hidup satu masa dengan Sayyid Quthb dan sering melakukan dialog-beliau(Sayyid Quthb) berkata; “Sesungguhnya Negara yang kita huni ini, adalah bumi Islam dan penduduknya adalah orang-orang muslim. Dan ini merupakan hakikat yang tak bisa dimungkiri lagi. Akan tetapi, institusi2 kafir dan undang-undang para thagut (orang-orang dzhalim) menguasai banyak lini, menguasai berbagai metode dalam mendidik anak, dan dala kehidupan keluarga dalam masyarakat tersebut. Oleh karena itu, bagaimanapun juga sebuah negeri orang-orang muslim –yang dihuni mayoritas orang2 muslim dan dipimpin oleh orang-orang yang tidak secara terus terang menyatakan kekafirannya atau tidak menunjukkan kekafirannya kepada penduduknya secara terang-terangan-tidak boleh dikategorikan darul harb atau darul kufr, walaupun di dalamnya institusi-institusi dzhalim berkuasa. Dan negeri-negeri Islam harus dikembalikan pada Islam atau sebaliknya, Islam harus dikembalikan padanya. Agar para penduduk, para pemimpinnya, institusi di dalamnya, hubungan antar penduduk, dan kultur yang berlaku di dalamnya sesuai dengan Islam. Dalam Ma’alim fit Thoriq dia mendefinisikan secara gamblang tentang Darul Harb dan Darul Islam, akan tetapi definisi tersebut berkaitan dengan kemurtadan seorang muslim.

3. Dalam tabloid al-muslimun edisi keempat, volume 1, menurunkan memoar yang ditulis Sayyid Quthb tak lama sebelum dihukum mati. Dalam memoarnya ia menulis, “kami telah menyepakati prinsip tidak menggunakan kekerasan dalam menggulingkan system pemerintahan, dan berhasrat menegakkan system islami dari kawasan titik awal, yaitu mentransfer masyarakat-masyarakat itu sendiri ke dalam konsep-konsep Islam yang murni.” Jadi jelas bahwa dia tidak sepakat menggunakan kekerasan dalam menggulingkan pemerintahan Nasser, walau  pemerintahan Mesir kala itu menangkap dan menyiksa para aktivis ikhwan dengan sadis.

4. Masyarakat jahiliah yang beliau maksudkan bukan para personal di dalamnya, akan tetapi aturan-aturan, undang-undang, nilai-nilai, sumber-sumber pengetahuan, dan dasar-dasar Negara. Jadi beliau tidak pernah mmengkafirkan individu2 maupun umat islam. Di sini terjadi kesalahan dalam memahami perkataan Sayyid Quthb.

Dalam tulisan Sayyid Quthb lebih mengutamakan symbol-simbol daripada keterangan yang sangat gamblang, dikarenakan Rezim Gamal Abdul Nasser yang sangat otoriter terhadap aktivitas jama’ah ikhwan. Banyak orang yang salah memahami terhadap tulisan Sayyid Quthb, dan ini diperkeruh suasana oleh orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Sayyid Quthb.

Prof. Gele Caibel, Orientalis asal Perancis, mengungkapkan; “Eksekusi Sayyid Quthb yang terlalu pagi telah meletakkan berbagai konsep dan pemikirannya-sekaligus diberbagai kandungan yang kadang kabur-dirak yang dapat diraih oleh segenap rakyat. Ini secara praktis mengakibatkan jatuhnya ‘senjata’ pengkafiran ke tangan-tangan berbagai aliran yang sukar dikendalikan.” Sebagaimana yang diungkapkan oleh Gill Kepel, “Sesungguhnya hukuman mati bagi Sayyid Quthb yang teramat dini, dan mengakibatkan seluruh pendapat dan pemikirannya dipahami oleh masyarakat dengan segala kesamaran yang ada di dalamnya. Dan hal ini mengakibatkan para pengikutnya melakukan pengkafiran tanpa bisa dikendalikan.” Wallahu ‘alam bis showab .

Cililin, 12 Agustus 2009, Jam 00.00 WIB.

Iman Munandar

(Staf Dept. Kebijakan Publik KAMMI Daerah Bandung/085294553964)

Sumber Rujukan

Akbar s. Ahmed, Islam sebagai tertuduh, kambing Hitam di tengah kekerasan global, Bandung; Mizan-Teraju, 2004.

Eko Prasetyo, Islam Kiri, Yogyakarta; Insist,  2003.

Karen Armstrong, The Battle For God, Bandung ; Mizan, 2004. (terjemahan)

————–, Islam;a Short History, Surabaya; Ikon, 2004. (terjemahan)

K. Salim Bahnasawi, Butir-butir Pemikiran Sayyid Quthb, Jakarta; Gema Insani Press  , 2003

Sayyid Quthb, Ma’alim fit Thoriiq, (terjemahan), Bookmark.

———-, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Jakarta; Gema Insani Press, 2003. Jilid 9, 23, dan 24.

———, Fiqhud Da’wah; Maudhu’at fi ad-Dakwah wal Harokah, Yogyakarta; Uswah, 2008.(terjemahan)


[1] Staf Dept. Kebijakan Publik KAMMI Daerah Bandung/085294553964

[2] K. Salim Bahnasawi, Butir-butir Pemikiran Sayyid Quthb, Gema Insani Press; Jakarta, 2003. Hal 26

About brigdhero

BERGERAK ATAU TERGANTIKAN
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s