Impian Anak-anak Pesantren (episode pertama)

Oleh: Iman Munandar[1]

Tahun 2002

Pengumuman Ujian Akhir Nasional tingkat SLTP/MTS telah tiba, para peserta UAN berdebar-debar saat detik-detik pemberian surat kelulusan maupun ketidak lulusan. Jarum jam dinding menunjukkan jam tujuh pagi, sekolah-sekolah tingkat SLTP/MTS sudah mulai disesaki para peserta yang ingin tahu hasilnya.

MTS Pondok pesantren Darul Ulum yang terletak di Desa Cililin kab. Bandung barat tampak masih sepi, baru para asatidz yang lebih awal tiba di kantor guru tingkat MTS (madrasah tsanawiyah). Setelah itu barulah para santri peserta UAN telah duduk di bangku masing-masing, menanti sebuah hasil dari UAN. Mayoritas santri tersebut optimis hasil UAN nya sangat memuaskan, namun sebagiannya lagi merasa pesimis. Ternyata mayoritas santri bergembira menerima hasilnya.

“Jang Eruk, al-hamdulillah do’aku dikabulkan. Besok aku mau daftar ke SMA 5 Cimahi.” Hilman merangkul pundak Muhammad al-Faruk (biasa dipanggil jang Eruk) dengan gembira.

“Wah hebat kamu lulusan Mts bisa masuk ke SMA paling favorit di Cimahi, selamat ya!” Faruk menyambut kegembiraan temannya.

Ya Allah apakah ini keadilan-Mu yang kau berikan padaku, nilai hasil UAN yang sangat tidak memuaskan. NEM aku tidak bisa masuk ke sekolah-sekolah favorit. Engkau tahu bahwa diriku tidak mau masuk ke SMA swasta maupun ke pesantren lagi. Padahal aku sudah kerja keras belajar, di manakah letak keadilan-Mu ya Allah. Dalam hati Faruk menyalahkan Tuhannya. Dengan berat hati dia harus menerima hasil ini. Malam ini adalah malam penentuan nasib pendidikannya akan dilanjutkan ke mana?

“Ya payah kamu ruk, gimana mau masuk ke sekolah favorit kalo Nem kamu Cuma 27. Masuk ke SMA negeri yang biasa aja kamu gak bakalan keterima ruk. Udah kamu masuk pesantren lagi. Gimana?” Ayah Faruk menawarkan kepadanya.

“Gak yah, aku gak mau pesantren lagi, bosen, gak betah. Mendingan melanjutkan ke swasta aja. Biar gak……”

Ibunya segera memotong omongan Faruk, “Ibu gak bakalan ngijinin kamu masuk ke swasta. Kamu pengen jadi anak berandalan hah!”

“Udah ruk kamu terima aja tawaran ayah. Kalo kamu gak mau masuk pesantren yang dulu.. teteh punya teman yang ngajar di Pesantren Indramayu”

“Indramayu, di mana tuh?”

“Kamu siapkan aja segala perlengkapan. Besok pagi kita berangkat ke Indramayu.”

“Hah, mendadak amat!” Faruk kaget dengan keputusan sepihak yang diambil ayahnya.

“Jangan banyak omong. Kamu mau putus sekolah?”

· * * * * * * * *

Perjalanan dari Bandung ke Indramayu memghabiskan waktu 4 jam. Daerah dekat pantai utara yang panas. Ehm, ini ternyata daerah Indramayu, panas juga masih pedalaman kayak di Cililin. Padahal aku ingin sekolah di sebuah kota besar, minimal di kota Cimahi, Ternyata takdir menentukan di desa lagi. Aku akan senang jika pesantren di ma’had az-Zaitun yang termewah se Asia Tenggara, ternyata bukan kawan. Pesantren tempat aku melanjutkan pendidikan ternyata kecil. Itulah Pesantren Darunnajah namanya. Batin Faruk menjerit.

Saat Faruk masuk ke kawasan pesantren, ruangan Penerimaan Santri Baru begitu sepi. Dari meja pendaftaran santri baru seorang lelaki setengah baya menyambut kedatangan keluarga Faruk. Dia merasa, apakah mungkin dia yang pertama kali mendaftar? Padahal ini hari terakhir pendaftaran. Sangat beda, ketika dirinya mendaftar ke Mts Pesantren Darul Ulum saat hari terakhir pendataran masih ada ratusan calon santri yang mendaftar ke pesantren tersebut, belum ditambah lagi dengan calon santri tingkat Madrasah Aliyah (MA), tidak terhitung…

“ngomong-ngomong yang sudah daftar ke Aliyah ada berapa orang pak?”

“Baru Sembilan santri, insya Allah akan nambah lagi pak.” Lelaki tersebut tersenyum.

Faruk melihat papan nama yang terletak pada kemeja lelaki tersebut, Oh ‘Ajat Sudrajat’ namanya. Baru kali ini dia sekolah dengan jumlah murid yang bisa dihitung oleh jari, bagaimana nasib belajarnya dengan jumlah yang sangat sedikit ini? Pikir Faruk. Dirinya pasrah ketika formulir pendaftaran dan persyaratan lainnya sudah dipenuhi. Tidak ada pilihan lagi, semua pendaftaran sudah tutup.

Saat diantarkan ke asrama putera, dia kaget ternyata asramanya tidak perkamar di dalamnya, mirip dengan aula yang penuh dengan lemari dan alas tidur yang digulung.

Kok asrama kayak gini, hampir mirip dengan tempat pengungsian yang sering lihat di Tv, kata Faruk dalam hati. Asrama putera berada di tingkat dua, sejajar dengan mushola dan ruangan kelas untuk SLTP berada di lantai yang sama. Dia menuju ke mushola, banyak juga santri yang tidur nyenyak di bawah kipas angin, di pintu utara mushola keluarganya berbincang dengan keluarga seorang santri baru.

“Nah ini anak saya pak, dia baru daftar juga loh.” Ayahnya memperkenalkan Faruk pada keluarga tersebut.

“Ayo nak kenalan dengan anak saya”

Faruk mengulurkan tangannya, “Namaku Muhammad al-Faruk, panggil aja Faruk, dari Bandung.”

“Salam kenal juga. Namaku Alwi, dari Losari Cirebon,” dengan logat jawa medok. Dari sinilah perkenalan di antara mereka semakin melebar.

Saat matahari mau berpamitan ke arah barat, bayang-bayang jejak keluarga mereka berdua sudah menghilang. Dari arah jalan barat pesantren datang tiga orang laki-laki dengan becak, yang satunya mengendarainya, sedangkan yang duanya jadi penumpang.

“Mail, Ardo, Hakim, cepetan daftar mau ditutup loh pendaftarannya,” teriak pak Ajat.

“Siap laksanakan pak,ha,ha, ha,” mereka bertiga tertawa dengan gembira. Pak Ajat hanya geleng-geleng kepala melihat reaksi mereka.

Tiga orang aneh tersebut mungkin santri terakhir yang mendaftar. Jadi jumlahnya ada 14 santri tingkat Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) pesantren Darunnajah. Adzan magrib telah berkumandang, asatidz dan para santri shalat berjamaah dengan khusyu. Sebuah ketenangan jiwa sedang dialami oleh seorang santri baru.

· ********

Hari pertama Masa Ta’aruf Santri memang terasa menyenangkan, semua peserta dari tingkat SLTP hingga MAK Nampak begitu bergembira. Semuanya harus nunduk pada perintah panitia, segala omongan panitia harus dilaksanakan. Itulah hari-hari awal di antara santri harus saling mengenal, begitu juga dengan senior, dan asatidz-asatidzah.

Hari pertama belajar yang mengagetkan bagi santri baru masalah sebuah papan sebagai pembatas pemisah belajar antara santriwan maupun santriwati di kelas, di kalangan santri lama biasa menyebut namanya hijab, yang artinya pembatas. Bagi Faruk, Alwi, Abbas, Ida, Ati, Runi, Viah, sebagai santri baru terasa aneh kalau hijab di pasang di kelas. Mereka berpikir, mungkin di antara mereka tidak bisa melihat lawan jenis pada saat belajar. Tapi bagi santri lama seperti Ardho, Hakim, Mail, Fikar, Rio, Wati, dan Sholehah sudah biasa dari SLTP hingga sekarang memakai hijab.

Perkenalan dengan wali kelas pun di mulai, seorang wanita berjilbab lebar memperkenalkan dirinya, biasa dipanggil mbak Diana. Setelah itu masing-masing santri mempenalkan diri secara lengkap hingga nomor sepatu berapa pun ditanyakan, ada-ada saja memang.

Saatnya pemilihan ketua kelas digelar. Sebelum pemilihan ketua, ada bursa nama-nama yang akan bermunculan. Nama Fikar, Mail, Faruk, dan Alwi masuk dalam bursa. Masing-masing calon berkampanye visi dan misi. Calon ketua yang unik ialah Alwi, ini dilihat dari orangnya yang sangat percaya diri malah ditertawakan oleh teman-teman sekelasnya. Akhirnya Alwi yang terpilih sebagai ketua. Setelah itu mereka mendeklarasikan angkatannya sebagai “Generasi Ketujuh adalah yang terbaik,” ya karena mereka ingin melakukan yang terbaik untuk agama dan bangsa ini.

Madrasah Aliyah Keagamaan mata pelajarannya lebih menekankan pada ilmu keagamaan dengan menggunakan bahasa arab, bagi yang lulusan bukan pesantren memang harus ekstra belajar. Menjelang ujian biasanya mereka menghapal setiap definisi dalam kitab-kitab piqh, ushul piqh, ulumul hadis, lmu tafsir, tafsir ahkam,dsb, walaupun gak tahu artinya apa. Mau jawaban pake bahasa Indonesia juga gak tahu harus nulis apa, paham juga gak. Mata pelajaran yang berteks bahasa Indonesia cuma matematika, bahasa Indonesia, dan sejarah peradaban Islam, ditambah lagi bahasa Inggris sebagai bahasa asing.

· *****************

Sepertiga malam sebagian santri begitu khusyu dalam shalat qiyamu lailnya. sebagian besar masih tertidur lelap di atas hamparan yang jelas bukan kasur, ya seperti sleeping blad, sarung yang biasa dipake dijadikan alas tidur, posisi mereka berada di bawah kipas angin yang terus berputar setiap malam untuk mengusir rasa gerah di Mushola. Karena di asrama tidak ada kipas angin, terpaksa pada tidur di mushola. Ada juga sebagian santri tidur d ruangan kelas, meja-meja belajar disulap menjadi sebuah ranjang yang gak empuk untuk tidur mereka.

Saat adzan shubuh berkumandang, satu per satu santri bangun, mereka pindah posisi tidurnya ke tempat lain, bahkan di halaman kamar mandi pun menjadi sasaran tempat tidur kedua setelah mushola.

Lantunan suara al-Qur’an pada pagi hari yang buta memang menyejukkan. Ketika sudah merasa cukup menghapal ayat-ayat al-Qur’an, Faruk menyandarkan dirinya pada serambi kanan mushola yang dapat melihat jalan raya. Sudah hampir setahun di pesantren ini, awalnya santri ada 14 orang berkurang menjadi 12 orang. Ida tidak kuat dengan pelajaran-pelajaran yang berbahasa arab, sedangkan Sholehah akhir-akhir ini kadang aneh sikapnya. Kabar burung, akhir-akhir ini dia sering diganggu oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang jelas diganggu mentalnya, jiwanya tertekan. Ya dia seorang mua’alaf, dan salah satu korban kerusuhan Ambon. Dia telah kembali pada ayah angkatnya yang muslim, dalam proses penyembuhan.

“Ruk, ngopi yuk, biar seger.”

“Wah boleh juga tuh dho.”

Faruk dan Ardho menikmati minuman kopi yang masih hangat. Lalu datang Alwi, Abbas, Fikar, Mail. Kebiasaan mereka minum kopi atau teh manis tiap pagi di ujung mushola. Wajarlah hampir tiap malam begadang, alasan minum kopi atau teh manis biar tidak ngantuk. Ya mereka pada malamnya suka masak nasi goreng, jadwal makan di tengah malam di dapur umum. Tetap saja mereka tidak kuat menahan ngantuk pada waktu sekolah, ada yang tidur di atas bangku, ada juga pergi ke mushola warga desa setempat untuk tidur siang pas waktu belajar biar tidak ketahuan oleh guru. Peristiwa yang unik dan terulang terus-menerus, pada saat mata Pelajaran Ilmu Tafsir oleh pak Oji dijadikan waktu tidur oleh anak-anak santriwan, kalau santriwati mungkin serius dengan pengajaran pak Oji. Dengan sabarnya pak Oji tidak pernah marah ketika di depannya hampir semua santriwan tidur saat jam belajar.

“Wah kita belum lengkap nih, si Hakim sama si Rio masih turu (tidur) tah?”

“Ah sira (kamu) kagak tau si Hakim ma bos Rio, mereka berdua kan abi naum fi mahad(bapak tidur di pesantren), “ Alwi menimpali Ardho.

“Eh, kita bangunin si Hakim sama si Rio yuk. Kita siram pake air, bikin kejutan, “ Usul Mail pada teman-temannya.

“He euh (iya), ide yang bagus,” jawab mereka kompak.

Ardho segera mengambil 2 ember yang berisi air penuh, dengan perlahan-lahan mereka mendekati tempat tidur Hakim dan Amdad. Mereka menahan tawa, dengan hitungan 1,2,3 mereka menyiram kepala Hakim dan Amdad, byurrrrr

Hakim dan Rio kaget, hampir saja jantung mereka berdua copot. Mereka tertawa senang telah berbuat jail pada temannya. Mereka berlari menjauh dari kejaran Hakim dan Amdad.

“Woi kalian pengecut, banci!!! Tunggu balasan dari gue,” Teriak Hakim.

Mereka terus berlari tiada henti, mengejar impian mereka tanpa batas. Ya akhirnya mereka naik kelas dengan nilai yang tidak mengecewakan. Mereka menamakan angkatanya sebagai generasi al-Harawiyyun yang siap membela harga diri Islam. Mereka ingin seperti murid-murid Nabi Isa as yang berjumlah 12 orang telah bersumpah akan mempertahankan Risalah-Nya yang di bawa oleh Nabi Isa sebagai utusan Allah, mereka juga menamakan diri al-Harawiyyun.

· **********

Ketika kelas dua, mereka tumbuh yang sangat berbeda pada waktu kelas satu. mereka sudah mengenal cinta dan potensinya masing-masing. Ya cinta dan potensi bagi mereka sebagai kekuatan yang sangat luar biasa. Dengan rasa cinta, kami lebih maksimal mengembangkan potensi kami masing-masing. Cinta terhadap lawan jenis adalah fitrah manusia. Mereka menjadikan rasa cinta pada seseorang sebagai pengembangan diri yang lebih positif. Beda dengan dengan remaja-remaja sebayanya menjadikan rasa cinta yang menjerumuskan pada lubang hitam, yang bernama hawa nafsu.

Ardho yang cerdik dalam menyusun skenario teater yang dapat memukau semua santri dan asatidz, malah dia adalah seniman di pesantrennya. Hakim yang mampu mengoperasikan progam computer, tepatnya TI, bahkan mereka berdua selalu berkombinasi dalam menyusun scenario teater dengan didukung oleh teknologi walaupun sangat sederhana. Hasilnya pada saat acara Pentas Kreasi Santri (PKS) sangat luar biasa, membuat para penonton terkagum-kagum atas teater tersebut. Memang Ardho orangnya unik, dan terkadang teman-temannya merasa aneh dengan ide-ide gilanya.

Sedangkan Alwi sangat tekun menghapal Qur’an, memang dia berbakat menjadi seorang ustadz. Abbas seorang mualaf dari Ternate, ingin menjadi seorang dai yang siap berdakwah di kampung halamannya. Rio yang berjiwa sosial dan memiliki kemampuan berbicara yang mengikat hati bagi yang mendengarkannya. Faruk lebih senang mempelajari sejarah pergerakan dan aspek pemikirannya, iya dia ingin jadi seorang aktivis gerakan mahasiswa yang memimpin demontrasi, kadang dia suka menulis tentang situasi politik nasional dengan analisa yang cukup tajam dan kasar. Tapi keinginan tersebut menjadi hal dilema baginya, secara keilmuan dia ingin melanjutkan kuliahnya di al-Azhar Kairo yang terkenal itu.

Ma’il digelari oleh teman-temannya The Adventure yang berkelana ke mana pun, bahkan pulau Kalimantan pun dia pernah menjelajahnya.

Menjelang hari pemilihan ketua OSIS, Ma’il mengusulkan untuk menjelajah pantai Babadan yang memiliki fenomena pantai yang indah.

“Terus gimana dong buat pemilihan ketua osis ntar gak jadi kalo kita jadi pergi menjelajah?” Faruk merasa khawatir akan kena sanksi dari pesantren.

“Wah kamu penakut ruk. Hakim aja sepakat gak bakalan hadir pas pemilihan,” celutuk Fikar.

“Gimana yah?” Faruk menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

“Kalo kamu ikut, kamu gak bakalan dibebani jadi pemimpin ruk. Biar si Rio jadi ketua, kita-kita bebas gak ada tanggung jawab,” lobi Ardho pada Faruk. Rio sudah diajak kompromi oleh teman-temannya, tapi Rio gak bisa diajak kompromi. Mereka beralasan, seharusnya pesantren menghidupkan kembali OSIS yang sebenarnya masih dipegang oleh kelas 3. Bagusnya pemilihan ketua digelar ketika pengurus OSIS yang lama telah berakhir.

Ardho, Alwi, Fikar, Abbas, Hakim, Ma’il,dan Faruk pergi ke pantai Babadan dengan sepeda. Tiba di pantai, mereka melepaskan bajunya, dan berlari melawan gulungan ombak yang terus menghantamnya. Mereka siap menghadapi tantangan-tantangan walaupun seperti gulungan ombak yang besar. Mereka berteriak, “wahai matahari dan lautan, saksikanlah bahwa kami adalah generasi yang terbaikk.”

Mereka menulis mimpi-mimpinya di atas pasir pantai yang lembut. “Ruk, kamu tulis apa?” Teriak Ardho.

“Aku ingin melakukan kebaikan dengan cara yang terbaik, selebihnya biar Allah yang urus. Yang terakhir aku ingin punya perpustakaan buku pribadi yang sangat besar. Semoga dua ambisi ini bisa mewujudkan cita-citaku ingin berkeliling dunia, mengunjungi situs-situs warisan peradaban Islam. Semoga terwujud, kawan.”

“Aku ingin jadi sutradara film yang terbaik,” balas ardho.

Mereka pun bergantian berteriak, meneriakkan cita-cita mereka, langit dan lautan pun jadi saksi atas suara cita-cita mereka yang tinggi. Biar goresan ini akan selalu dikenang. Mereka saling berpegangan tangan dengan erat dan menyaksikan terbenamnya matahari di tepi lautan, fenomena alam yang sangat indah, mereka yakin pasti suatu saat mimpi-mimpi indah mereka akan tercapai.

Beberapa bulan kemudian, dengan alasan yang tidak bisa dipahami, akhirnya Ma’il pergi meninggalkan pesantren. mereka bukanlah generasi al-Harawiyyun lagi, karena berkurang satu menjadi sebelas orang.

Pembagian raport untuk kenaikan kelas tiga telah tiba, Wati lah yang selalu juara umum di kelasnya. Runi jago mengekspresikan puisi “Sajadah panjang” karya Taufik Ismail, dan “Aku” karya Chairil Anwar. Bulan kemarin pada saat perlombaan baca puisi karya-karya Taufik Ismail dan Chairil Anwar tingkat SMA/MA se Indramayu, Runi juaranya. Ati memang sangat serius menimba ilmu keagamaan, sedangkan Viah ingin bercita-cita seorang bidan.

Ustadz Yunus, sebagai pimpinan pesantren yang kharismatik, mengumpulkan semua santri menjelang liburan sekolahan, dan menekankan, “Jadilah kalian menjadi Pekerja keras, jangan harap jadi pegawai. Terus tatap masa depan, dan raihlah mimpi kalian…”

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (masa depan); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Hasyr; 18)

******************************

KEHILANGAN

Matahari mulai beranjak naik sedikit demi sedikit. Siang ini, di ruang kelas 3 ada 11 santri sedang serius mengerjakan latihan soal kaidah-kaidah bahasa Arab. Fikar yang digelari si “Lieur”[2] oleh teman-teman, begitu asyiknya mendengarkan musik dari headshet walkman yang dipasangkan ke telinganya. Dia menunggu jawaban soal dari teman sebangkunya, Faruk.

Faruk menepuk pundak Fikar. Mengisyaratkan segera mengerjakan soal-soal tersebut. Dia langsung mengambil jawaban punya Faruk. Kebetulan hari ini, ustadz Rosyad hanya memberi tugas kepada santri kelas tiga. Hari kedua belajar awal untuk kelas tiga masih santai, sudah menjadi tradisi jika hari pertama dan kedua pada kegiatan belajar mengajar (KBM) masih dalam suasana hari libur. Hanya ustadz Rosyad sajalah yang tidak pernah kenal kompromi. Bahkan pada hari libur nasional pun, seperti hari raya agama-agama lain KBM tetap terus berjalan. Para santri nampak kesal dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat pesantren. Yang mereka inginkan sekolah libur dengan tanggal yang berwarna merah. Apa boleh buat jika itu sudah kebijakan pesantren. Jika melanggarnya, siap-siaplah menerima hukuman dari pesantren.

Di balik hijab (pembatas), 4 orang santri wati semuanya terdiam saat mereka menerima kiriman surat via pos dari bang Ahmad barusan. Mereka menatap surat yang berada di telapak tangan Wati. Mereka sudah lama mendengar rencana bang Ahmad akan meninggalkan pesantren ini. Alasannya ingin mencari sesuatu yang lebih di luar kehidupan pesantren. Lebih tepatnya mencari penghasilan yang layak. Bagi santri kelas 3 Madrasah Aliyah pesantren ini, bang Ahmad sudah dianggap sebagai kakak kandung mereka sendiri. Dari pagi hingga malam senantiasa membimbing mereka, dari baca al-Qur’an pada pagi hari hingga curhatan pribadi.

Bang Ahmad adalah alumni pesantren ini dan sudah dua tahun mengabdi di pesantren tersebut. Dia mempunyai kecerdasan otak yang luar biasa dan orangnya bersahaja. Sebenarnya dia sedang kuliah semester 4 di Universitas Indramayu sambil mengabdi di pesantren. Perlu diketahui, pesantren Darun Najah ini rata-rata santrinya kelas ekonomi bawah. Wajar jika SPP bulanan pesantren hampir 79% menunggak, bahkan sebagian santri hingga 1 tahun lamanya belum membayar biaya SPP sama sekali. Sehingga banyak para asatidz/asatidzah (guru) belum menerima gaji sama sekali selama beberapa bulan. Apalagi bantuan dari pihak pemerintah untuk pesantren sangat minim sekali. Di tengah himpitan ekonomi, mereka tetap ikhlas dan semangat menunaikan kewajiban mereka sebagai guru. Bagi seorang bendahara pesantren, pak Dayat, sangat memusingkan untuk mengelola keuangan pesantren jika pemasukan sangat sedikit. Sementara biaya kebutuhan sehari-hari untuk pesantren cukup besar, misal makanan sehari-hari untuk penghuni pesantren. Walaupun sebagian besar para santri menunggak bayaran SPP selama beberapa bulan, mereka masih tetap bisa belajar di pesantren ini.

Bagi bang Ahmad, secara pribadi tidak jadi masalah jika hak-haknya belum terbayarkan. Toh dia bisa mencari penghasilan sebagai guru TPA di luar pesantren meskipun sedikit. Namun sebagai kakak tertua dia merasa punya kewajiban untuk meringankan beban kedua orang tuanya sebagai burh tani yang sudah tua, terutama adik-adiknya yang masih sekolah. Dia merasa kasihan melihat kondisi keluarganya, sementara penghasilannya belum bisa membantu meringankan ekonomi keluarganya. karena alasan ekonomilah dia meninggalkan pesantren ini, meninggalkan kesedihan untuk 11 Santri kelas tiga. mereka pun sangat kehilangan dengan kepergian bang Ahmad.

Alwi menerima surat dari Wati. Dia maju ke depan, dan membacakan surat tersebut untuk teman-teman sekelasnya. Dengan nada suara yang berat membacakan goresan tangan bang Ahmad, mereka tak dapat membendung air mata kesedihan.

· **************

Ketika matahari berada di atas kepala, semua santri mengucapkan hamdalah dan do’a penutup belajar. Mereka pergi ke tempat wudhu masing-masing, menunaikan kewajiban mereka sebagai hamba Allah (shalat dzhuhur) secara berjama’ah. Setelah shalat dzhuhur usai, sudah menjadi tradisi dilanjutkan dengan dzikir dan berdo’a kepada-Nya.

Sebagian santri yang bertugas mengambil makan siang telah tiba di asrama. Semua santri mengantri untuk mengambil jatah makanannya masing-masing.

“Faruk, Lieur (Fikar), Hakim, Rio, Alwi, Abbas, ayo kita kumpul makan bareng,” teriak Ardho sambil bawa nampan yang berisi nasi dengan menu sayur tahu untuk mereka. Mereka sudah tidak punya piring lagi. Sebenarnya mereka sudah membeli peralatan makan, itu hanya bisa bertahan paling lama 2 minggu, entah raib hilang kemana. Dan ini terjadi terulang terus. Apalagi sandal nasibnya lebih dari peralatan makanan. Ketika si santri tidak punya sandal, biasanya mereka meminjam tanpa ijin pemiliknya, gak peduli itu sandal santri maupun tamu pesantren, dan kadang-kadang tidak mengembalikan ke tempat semula. Sering kejadian ketika keluarga santri berkunjung ke pesantren untuk menengok anaknya, suka kehilangan sandal. Ternyata sandal tersebut dipakai oleh santri tanpa ijin.

Makan siang telah usai. Biasanya para santri menggunakan waktu siang ini untuk istirahat, entah untuk tidur, mapun aktivitas lainnya. Jam satu siang memang sangat panas untuk daerah pantai Indramayu.

“Ruk, lagi baca buku apa?” Tanya Hakim sambil bawa bantal dan sarung sebagai alas tidurnya.

“Buku The Battle for God, karya Karen Amstrong, bagus loh.”

“Ah malas baca buku kayak gituan. Semakin aneh aja buku-buku yang kau baca. Mendingan gue tidur siang aja Ruk.”

“Ya iya lah.. memang kerjaanmu tidur mulu,” ujar Faruk sambil menikmati argument-argument yang ditulis oleh Karen Amstrong tentang Perang demi Tuhan yang terjadi pada Islam, Kristen, dan Yahudi.

“Tidur itu sehat Ruk.”

“ko masih tetap kurus, jangan-jangan kamu kena busung lapar Hakim, ha, ha”

“Sialan kamu Ruk,” Hakim memukulkan bantalnya ke Faruk. Dia pergi menghamparkan sarungnya di atas lantai mushola.

Sementara Ardho berada di ruang kelas 2 SLTP (belakang mushola) Nampak serius menulis naskah skenario untuk pertunjukan teater pada acara salah satu ormas Islam tingkat daerah Indramayu pada bulan depan. Lumayan prestasi Ardho di bidang seni sudah meningkat. Walaupun dengan peralatan yang sangat sederhana, dia bisa berpikir kreatif mengemas perpaduan seni teater dengan konteks politik yang lagi ngetrend di masyarakat. Pada saat pentas seni siswa tingkat SMU/MA se Pantura, Ardho sebagai sang sutradara mampu memimpin teman-teman sekelasnya untuk bermain teater di atas panggung tentang TERORISME yang menjadikan aktivis dakwah sebagai kambing hitamnya. Dalam teater tersebut mampu mengungkapkan bahwa akar lahirnya teroris disebabkan oleh sikap pihak Barat sendiri yang tidak pernah menghargai Hak asasi umat Islam. Suatu kesalahan terbesar jika para aktivis dakwah disamakan dengan teroris menurut perspektif Barat. Dengan gencarnya ditangkap para aktivis dakwah tanpa bukti yang kuat, menyebabkan para istri dan anak-anaknya menanggung rasa hina di mata masyarakat. Apa salah mereka sehingga mereka dijauhi oleh masyarakat seperti anjing yang berpenyakit yang mesti dijauhi. Bahkan ditahannya suami mereka tanpa surat ijin penangkapan, membuat istri-istrinya mencari nafkah sendiri untuk anak-anaknya. Para penonton merasa tersanjung dengan teater tersebut, ternyata selama ini mereka selalu salah paham. Tak disangka kelompok Ardho akhirnya mendapatkan filantropi dari Gubernur Jabar. Suatu prestasi yang sangat membanggakan untuk pesantren.

Sedangkan Faruk, Hakim, Fikar, Abbas, Alwi, dan Rio, terbilang biasa-biasa saja dalam bidang seni dan sastra. Terkadang lucu ketika mereka diberi tugas oleh mbak Nur (guru Bahasa Indonesia) untuk membuat puisi dan cerita fiktif, iya rata-rata puisi yang mereka buat sebenarnya sebagai ekspresi rasa cinta mereka pada orang yang dicintainya.

Disaat diriku merasa jenuh

Lalu datang senyumanmu

Senyumanmu laksana sekuntum bunga mawar putih

Yang memiliki rona keindahan

Yang menebar aroma wewangian

Suaramu laksana music

Yang membuatku tenang

Dapat menghidupkan jiwaku

Serta membangkitkan semangatku

“Puisi ini kupersembahkan untuk sekuntum bunga mawar putih yang telah lama dinantikan. Terimakasih.” Teman-temannya bertepuk tangan sambil bersiul-siul ‘pretikiew’. Sementara Runi, Ati, dan Via, saling berdehem sambil melirik ke Wati. Kedua pipi Wati seketika memerah. Dia mencubit teman-temannya.

“Wah hebat juga puisi buatanmu Ruk. Ngomong-ngomong siapa nih ‘Sekuntum Bunga Mawar Putihnya’ ?” Canda mbak Nur pada Faruk. Sementara teman-temannya terus bersiulan ‘Pretikiew’. Wati semakin menundukkan kepalanya. Faruk hanya senyum-senyum. Percuma saja dia membantah gossip-gosip yang beredar di pesantren. Sebenarnya puisi ini dibuat untuk mengenang cinta pertamanya pada waktu MTS.

1 bulan setelah kepergian bang Ahmad, mbak Nur juga akhirnya meninggalkan pesantren. Santri kelas tiga merasa kehilangan dengan kepergian mbak Nur. Belum ada yang dapat menggantikan guru bahasa Indonesia sehebat mbak Nur di mata para santri kelas tiga. Bagi mereka mbak Nur sangat berjasa dalam mengembangkan bakat mereka. “Pelajarilah sastra krena dia akan menyulut keberanianmu yang sesungguhnya,” itulah kata-kata yang sering dilontarkan olehnya. Tak heran mereka rajin membaca karya-karya sastrawan yang terkenal, seperti HAMKA, Sakti Wibowo, Gola Gong, Afifah Afra, Chairil Anwar, Sir. Moh. Iqbal, Dan Brown, Steve Berry, Habiburrahman al-Shirazy, Pramoedya Ananta Toer dan lain sebagainya. Dengan sastra hanya dengan goresan kata-kata dapat menyulut api motivasi mereka untuk menjadikan diri mereka lebih baik lagi untuk hari esok (masa depan).

· *******************

Sementara di kamar kelas tiga santriwati. Wati menikmati membaca novel The Da Vinci Dode, karya Dan Brown, yang sangat fenomenal. Sementara Viah sedang gelisah, dan menuangkan kegelisahannya di buku diary.

Wati tersenyum melihat Viah yang akhir-akhir ini nampak berkeluh kesah. “Ada masalah lagi temanku yang imut?” ujar Wati sambil menikmati bacaanya.

“Biasa, aku nyesel deh ga jadi pindah sekolah. Bayangkan aja Wati, mbak Nur sebagai guru bahasa Indonesia karang udah pergi. Sementara penggantinya tidak ahli dibidangnya. Sedangkan pak Ilyas sebagai guru matematika udah 3 bulan ini gak pernah masuk, padahal dia aktif loh ngajar di sekolah lain. Pak Syamsul guru bahasa Inggris lebih sibuk di luar pesantren. Padahal 3 mata pelajaran tersebut sebagai tolak ukur lulus atau tidak lulusnya UAN (Ujian Akhir Nasional) ntar bulan Mei. Gimana dong?”

“Mmm jangan menyerah gitu donk. Kan kita bisa belajar madiri lebih giat lagi. Ingat pepatah Arab, ‘Man jadda wajada’, barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkannya.”

“Ah itu mah Cuma pepatah doang, gak konkret,” Viah semakin kesal.

Runi dan Ati masuk ke dalam kamar tersebut. Mereka telah beli Rumbah (Kangkung, Toge, dan sambal) ditambah bala-bala dari warung bi Eni. Mereka berempat menyantap Rumbah sebagai makanan penambah kenyang. Walaupun makan sehari tiga kali, rasanya belum lengkap kalau tidak makan Rumbah.

“Makannya yang semangat yach,” Runi menepuk-nepuk kedua pipi Viah yang baru ja selesai makanannya.

“Dari tadi cemburut mulu, kayak Tina Toon yang lagi…”

“Gak sopan tau,” Viah mencubit pinggang Ati.

Wati sibuk mencari buku-buku yang pas buat mereka, agar mereka termotivasi untuk belajar lebih giat lagi, walaupun tanpa guru. Akhirnya dia menemukan buku ‘Allah pun Tersenyum,’ karya Sir. Muhammad Iqbal. Dia berjalan menuju teman-temannya, dan menceritakan Alegori tentang Pesan Rajawali pada Anaknya dan Pesan seekor Rusa;

Iqbal berpesan kepada generasi mendatang agar menanamkan sifat-sifat rajawali dalam diri mereka. Mereka harus mengembangkan diri, bekerja keras, tegar, dan tangguh. Mereka harus memiliki pikiran yang jernih dalam tubuh yang sehat. Mereka harus terbang tinggi seperti rajawali, tidak boleh bergabung dengan orang-orang lemah. Mereka harus bersungguh-sungguh dalam berusaha, tidak boleh bergantung kepada siapapun untuk menggunakan kesempatan atau meraih keuntungan.

Iqbal berkata, “Jika anda ingin hidup, maka kehidupan itu berada di tengah-tengah bahaya. Jika ada kesulitan, janganlah menghindar darinya. Atasilah kesulitan-kesulitan itu. Bahaya selalu merupakan sebuah berkah yang tersembunyi karena akan mendatangkan yang terbaik untuk anda.” Allah Swt berfirman, sesungguhnya dibalik kesulitan terdapat kemudahan. (QS al-Insyirah ; 6)

“Perlu diingat, bahwa para Nabi dan Rosul Allah telah begitu banyak mengorbankan darah dan jiwa mereka untuk tersebarnya risalah-Nya di bumi ini. Hingga kini kita bisa menikmati nikmatnya Islam. Kalau Pramoedya Ananta Toer yang dicap komunis aja separuh hidupnya di penjara mampu melahirkan karya-karya sastranya yang begitu banyak mendapatkan penghargaan. Kenapa kita tidak, menjadikan diri kita lebih baik dari orang lain?”

-Bersambung-

DILARANG MENCINTAI BUNGA-BUNGA

Rasa cinta telah tumbuh dalam diri mereka, sebenarnya mereka ingin mengekspresikan rasa cinta mereka dalam kehidupannya. Tapi dalam dunia pesantren, berhubungan dengan lawan jenis yang bukan muhrim haram hukumnya dan perbuatan tersebut sangat terlarang bagi semua kalangan santri dan santriwati. Berpacaran hukumannya sangat berat.

Dalam psikologi rasa cinta yang tumbuh pada masa-masa SMA adalah hal yang alamiah. Tergantung pada niat dan kemampuan seseorang untuk mengendalikannya. Biar tidak liar dalam masalah perkembangan cinta, para santri kelas 3 MAK dibekali dengan Fiqh Munakahat ( hukum pernikahan).

Dalam Islam, tidak mengenal istilah pacaran sebelum nikah yang lagi ngetren digandrungi para pemuda dan pemudi, apalagi sampai berzina yang sangat diharamkan. Berpacaran memang dikategorikan mendekati zina yang dilarang oleh Allah.

Lalu bagaimanakah proses bercinta dalam Islam? Pada pelajaran fiqh munakahat, ustadzah Ayin menjelaskan proses cinta yang Islami; ta’aruf dulu, yakni melihat calon istri atau suami dengan saling menukar biodata. Jika merasa cocok, lalu dilanjutkan dengan khitbah (melamar) untuk menentukan hari pernikahannya. Jika akad nikah telah terucap dan sah menurut hukum Islam, sangat diperbolehkan untuk berpacaran dengan sesukahati mereka, karena hal tersebut ibadah yang diridhoi oleh Allah.

“Sebelum ta’aruf, kita harus mempunyai kriteria-kriteria calon istri atau suami dulu. Maka pilihlah calon suami atau istri yang baik agamanya, walaupun dia tidak menarik hatimu,” terang ustadzah Ayin.

Para santri kelas tiga tersenyum-senyum dengan penjelasan ustadzah Ayin tentang criteria calon istri atau suami yang ideal. Dengan rasa malu-malu, Faruk mengasungkan telunjuk jarinya untuk bertanya, “bu kalo ketika seseorang melamar seorang wanita dengan mahar membaca salah satu kitab arab gundul, apakah hal tersebut diperbolehkan dalam Islam?”

Ustadzah Ayin tersenyum dan paham tradisi tersebut dikalangan kiayi pesantren bila mereka mempunyai seorang puteri yang akan dilamar. “Faruk mau melamar anak kiayi pesantren?” Faruk malu-malu menjawab pertanyaan ustadzah Ayin. “yah hal tersebut diperbolehkan dalam Islam.”

“Adeuhh Faruk, ngomong-ngomong sama siapa nih? Jangan lupa undangannya buat kita yach,” seloroh Ardho. Hakim, Alwi, Fikar, Rio, dan Abbas bersiul-siul ‘pritikew’ di kelas. Sementara Runi, Wati, Ati, dan Viah, saling berpandangan satu sama lain. Dalam hati mereka berkata; kira-kira ditujukan ke siapa yach? kami merasa bukan anak seorang kiayi pesantren. Kalaupun ada di limgkumgan pesantren ini para asatidz mempunyai seorang anak perempuan, itu juga umurnya paling gede 5 tahun. Gak mungkin kayaknya.

Faruk semakin sumringah dengan penjelasan dari ustadzah Ayin. Dia mempunyai targetan, biarlah dirinya dan Allah yang tahu.

***********************

Pergaulan di pesantren antara lawan jenis sangat dibatasi, komunikasinya pun hanya sebatas di kelas saja, itu pun dibatasi oleh hijab (papan pembatas). Pada tahun kemarin, mereka tergabung dalam organisasi KESATUAN AKSI PELAJAR MUSLIM INDONESIA yang disingkat KAPMI cabang Indramayu. Para anggotanya dari sekolah umum, dan mayoritas dari SMA favorit. Faruk cs merasa minder berasal dari pesantren yang tidak seperti pondok pesantren Gontor Modern atau pesantren Husnul Khatimah yang reputasinya sangat bagus. Luas pesantren Darunnajah sangat kurang dari 1 ha, apalagi sarana dan prasarana yang sangat minim, ditambah santrinya yang sedikit.

Tapi mereka tahu rasa minder harus diatasi dengan segera. Perlahan-lahan mereka belajar tentang konsep demokrasi dan politik dalam Islam. Rajin berdiskusi tentang politik pesta demokrasi 2004 dengan bang Haris yang kebetulan sebagai ketum KAMMI komisariat Unwir (Universitas Wiralodra) salah satu pembimbing pesantren juga. Sementara Runi cs hanya jadi pendengar setia saja bila ada diskusi politik di kelas, mereka tidak mengerti tetek bengek demokrasi. Jika teman-temannya di KAPMI punya reputasi sekolah mereka yang paling favorit di Indramayu, maka Faruk cs punya wawasan tentang Islam, Demokrasi, dan Peradaban, yang tidak mereka miliki. Teman-temannya dari SMA favorit terkagum-kagum dengan segala retorika politik yang dipaparkan oleh Faruk cs.

Jika ada rapat KAPMI, Faruk cs sangat senang bertemu dengan teman-temannya, apalagi dengan teman-temannya yang jilbaber. Karena mereka bisa menatap lawan jenisnya tanpa adanya hijab sebagai penghalang. Tapi tetap saja ada rambu-rambu pesantren yang tak boleh dilanggar. Komunikasi mereka sangat terbatas dengan teman-temannya, bila ada seorang santri menerima surat atau telepon dari wanita non muhrim, bisa-bisa kena sanksi dibotak gundul kayak sholin, paling berat dikeluarkan. Apalagi bila keluar dari lingkungan pesantren harus izin terlebih dahulu. Untuk sementara ini mereka dilarang mencintai bunga-bunga, kecuali jika pada waktunya mereka boleh memilih salah satu bunga untuk menggenapkan separoh agamanya.

-bersambung-


[1] Pengurus KAMMI DAERAH BANDUNG.,

[2] Bingung/pusing

About brigdhero

BERGERAK ATAU TERGANTIKAN
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s