Catatan dari Seorang Demonstran

By; Iman Munandar

Minggu-minggu kemarin saya dapat sms dari ketua KAMMI Daerah Bandung, yang bunyinya begini; “Beberapa pengurus KAMMI daerah Bandung mengundurkan diri, memang beban amanah dakwah itu sangat berat. Saya minta maaf atas segala khilaf dan dosa..” dalam hati saya bertanya-tanya siapa lagi yang keluar dari kepengurusan? Satu persatu wajah para pengurus dari awal kepengurusan tahun 2009 menghilang. Karena mungkin alasan akademik, tugas akhir, mungkin lebih asyik aktif di luar KAMMI, mungkin juga sudah lulus, dan ada juga yang bilang memang kepengurusan selama dua tahun kelamaan dan memberatkan.

Dalam tulisan ini saya mencoba untuk berbagi cerita, pengalaman pribadi tentang akademik dan kisah cintaku selama keaktifan di KAMMI. Baiklah yang pertama saya coba berbagi cerita tentang kisah cinta..

Dalam tulisan Anis Matta pada buku Serial Cinta, “Cinta adalah kekuatan perubahan yang dahsyat …… Pendekatan cinta adalah kebalikan dari pendekatan dengan kekerasan. Cinta berusaha memahami, menguatkan, dan menghidupkan. Dengan cinta, seorang individu akan selalu mentranformasikan dirinya. Dia menjadi lebih peka, lebih menghargai, lebih produktif, lebih menjadi dirinya sendiri…”

Cerita pendek yang berjudul “Cinta dan Pergerakan” (Revisi dari ketika menjadi orang kedua) memang diambil dari pengalaman pribadi, yang membuat gempar di kalangan internal KAMMI. Sebenarnya cerita tersebut sebagai kenangan cinta yang terindah. Ya berawal dari cintalah saya ingin melakukan kebaikan dengan cara terbaik, selebihnya biar Allah yang urus.

Motif masuk pesantren awalnya ingin memperdalam ilmu agama, dan memang itu juga harapan keluarga. Ketika saya resmi menjadi santri di sebuah pesantren terkenal di Bandung Barat, justru saat itulah motif awal agak lentur. Karena mata pelajaran yang sangat banyak antara umum dan agama, ditambah lagi jadwal keseharian yang sangat padat dan disiplin yang keras, membuat saya merasa tidak semangat belajar. Apalagi lingkungan yang bertolak belakang dengan hadis BAHWA KEBERSIHAN ITU BAGIAN DARI IMAN. Misalnya, barang-barang seperti sandal, piring, gelas, pakaian dalam, paling cepat hilangnya, entah memang ada yang nyuri. Masih teringat, ketika piring sebagai wadah untuk makan sudah gak ada, terpaksalah sebagian santri menggunakan ember dan gayung, yang biasanya dipake untuk kegiatan di kamar mandi, dipake sebagai wadah untuk makan (maaf menjijikkan). Keterpaksaanlah yang terus saya jalani, wajarlah bila raport saya nilai-nilainya pada jelek dan ranking pertama ke belakang terus (ranking terakhir).

Pada saat saya jatuh cinta pertama kali kepada seorang santriwati yang terus berprestasi di pesantren. Dari sanalah saya mulai memperbaiki diri untuk lebih baik lagi, walaupun tidak pernah tercapai.

Akhirnya saya melanjutkan Madrasah Aliyah ke sebuah pesantren kecil di Indramayu, meninggalkan kenangan cinta pertama. Cerita bersambung yang saya tulis berjudul “Sebuah Kisah Sebuah Impian” berdasarkan pengalaman pribadi juga. Sekelas pada awalnya berjumlah 14, 8 santriwan dan 6 santriwati, berkurang menjadi 9 orang pada saat kelas tiga. Menurut peraturan pendidikan tidak diperbolehkan ikut UAN apabila jumlah siswa kurang dari sepuluh. Dengan perjuangan yang tak kenal henti dari para asatidz pesantren, akhirnya kami sekelas bisa mengikuti UAN. Alhmdulillah semuanya melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.

Dari pesantren kecil ini, barulah saya mengenal politik, termasuk KAMMI. Ini tidak terlepas dari peran salah seorang pembimbing santri yang kebetulan sebagai aktivis KAMMI komsat Unwir, yang hampir tiap hari mengadakan diskusi tentang politik gerakan mahasiswa dan pemilu 2004. Saya beserta teman-teman sekelas rajin meng update berita dari Koran harian, dijadikan kliping, lalu membuat tulisan artikel dan makalah untuk didiskusikan di kelas. Kadang kami sekelas sering membuat teater politik, sebuah perpaduan antara politik dan seni. Saat itulah saya jatuh cinta pada KAMMI, dan ingin berperan aktif seperti para aktivis KAMMI yang sedang berdemontrasi.

Setelah lulus dari pesantren, awalnya ingin kuliah di al-Azhar Kairo Mesir karena terinspirasi dari novel Ayat-Ayat Cinta. Keluarga tidak mengizinkan, karena alasan ongkos dan biaya hidup. Saya tidak tertarik kuliah di PTN-PTN, dan tidak pernah mencoba ikut SPMB. Saya tertarik kuliah di Unisba karena ada progam kembaran antara fakultas Hukum dengan fakultas Syariah dan dapat gelar 2; SH dan SHI.

Resmilah saya tercatat sebagai mahasiswa Unisba, dan pada saat itulah saya menjadi kader KAMMI UNISBA. Rajin membaca buku tentang gerakan, sospol, sejarah, novel, dan buku-buku karangan orientalis, aktif berdiskusi, mengikuti setiap kegiatan, dan tidak ketinggalan juga berdemontrasi di depan gedung sate. Walaupun sering bolos kuliah, tapi Alhamdulillah IPK masih di atas 3 koma, dan Alhamdulillah tidak pernah ikut perbaikan selama kuliah 4 setengah tahun ini, baik di Fakultas Hukum maupun di fakultas Syari’ah.

Tak disangka ternyata seorang eks santriwati pesantren juga ikut KAMMI di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung. Cinta lama bertumbuh kembali, semakin semangatlah diriku. Dan kami berdua sering berkomunikasi via hp, dan terkadang diantara kami sering miscall pada seperitiga malam. Pada tahun 2008 bertepatan dengan ultahnya, kami janjian untuk bertemu, dan saya memberikan sebuah buku SERIAL CINTA karya Anis Matta kepadanya. Di balik sebuah buku tersebut memang ada sebuah harapan. Ternyata Allah berkehendak lain, memang dia bukan jodoh buat saya. Dan saya mengabadikannya dalam goresan sebagai kenangan masa lalu, sebuah cerita pendek “Cinta dan Pergerakan” (Revisi dari ketika menjadi orang kedua).

Kisah cinta kedua gagal juga, tidak perlu diceritakan. Dan kisah cinta ketiga juga bukan di sini untuk diceritakan, insya Allah dalam waktu dekat akan diabadikan dalam goresan cerita juga, tentunya dimodifikasi di sana-sini biar tidak sepenuhnya 100% nyata, sebagaimana cerpen Cinta dan Pergerakan tidak sepenuhnnya nyata.

Ketiga kisah cinta ini memang tidak patut untuk diikuti oleh teman-teman. Disatu sisi cinta memang mempunyai kekuatan yang dahsyat, namun cinta juga biasa dijadikan oleh syetan untuk menjerumuskan seorang hamba Allah pada lubang kemaksiatan. Al-hamdulillah selama ini saya tidak pernah berpacaran, sebagaimana pada umumnya orang melakukan pacaran. Mungkin saya terserang VMJ, mencoba agar tidak melanggar batas akhir syari’at Islam. Tapi hal tersebut tidak bisa menjamin, karena manusia itu ada lemahnya juga. Alhamdulillah ketiga kisah cinta ini tidak terjadi seperti kisah Laila Majnun.

Pesan untuk teman-teman; hati-hatilah dengan Virus Merah Jambu (VMJ). Jangan pernah meninggalkan tarbawi dan teruslah aktif berorganisasi. Karena kedua hal tersebut sebagai perisai hati.

Ujian lain pun datang silih berganti, apakah saya akan meninggalkan KAMMI?

Saat awal kepengurusan KAMMI daerah Bandung periode 2009-2011, saya aktif di dept. Kebijakan Publik. Sibuk merencanakan gerakan kedepan seperti apa, mungkin saat itu yang terdekat adalah agenda pemilu dan pilpres 2009. Selain itu baru pertama kali menjadi tim sukses seorang caleg DPR RI dari salah satu partai Islam. Sebenarnya tim sukses ada 4 orang, karena 3 orang tersebut dari UI depok ditambah lagi gak bisa full di lapangan, akhirnya saya sendirian bolak-balik antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat untuk meraih suara terbanyak. Memang caleg tersebut kurang terkenal dan bukan putera daerah, apalagi dapil tersebut saingannya sangat berat, ya seperti taufik kiemas, Oneng Bajaj bajuri, Viena seorang artis dari democrat, Fery Mursyidan Baldan, etc, membuat saya tertantang harus bergerak walaupun biaya politik yang minim dibandingkan mereka. Ya caleg tersebut yang saya usung senjatanya hanya stiker-stiker yang saya sebar, gak ada spanduk sama sekali. Dari sanalah saya belajar membangun jaringan dan terjun berpolitik praktis.

Bolak-balik antara kota Bandung (karena saya aktivis KAMMI), Kabupaten Bandung, dan Kab. Bandung Barat, memang sangat melelahkan, apalagi kuliah saya sering bolos, tapi saat UAS usai seluruh mata kuliah lulus semua, ipk masih bertahan 3 koma ke atas. Alhmdulillah mungkin ini nikmat yang diberikan oleh Allah.

Ujian pun datang lagi, setelah pilpres 2009 ibu saya sakit, kadar gula darahnya tinggi, apalagi ibu punya penyakit diabet komplikasi mag. Idul adha kemarin juga ayah jatuh sakit karena darah tinggi yang meningkat, perilaku ayah memang seperti anak kecil, suka lupa. Ada desakan untuk keluar dari KAMMI, karena memang saya bungsu, di rumah Cuma saya, ibu, dan ayah, apalagi di rumah ibu punya usaha.

Karena saya telah jatuh cinta pada KAMMI, dan KAMMI adalah istri pertama saya, sangat berat untuk meninggalkan KAMMI. Saya pun mencoba mengatur waktu antara KAMMI dan keluarga. Alhmdulillah dengan pertolongan Allah yang maha besar, ayah dan ibu berangsur-angsur sembuh.

Alhamdulillah KKL saya beres, sekarang focus ke skripsi tanpa meninggalkan kewajiban saya terhadap istriku (KAMMI). Insya Allah targetan lulus 2011 awal.

Kenapa saya begitu berat untuk meninggalkan KAMMI? Karena bagi saya berorganisasi itu sebagai tugas agama dan bangsa. Wallahu ‘alam bis showab.

About brigdhero

BERGERAK ATAU TERGANTIKAN
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Catatan dari Seorang Demonstran

  1. mahbub says:

    ass. bagus ceritanya sangat menggugah n inspiratif. eh katanya antum mau nikah juga yah, ditunggu infonya hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s