Domba untuk Emak

By: Iman Munandar[1]

“Hey ri, melamun saja dari tadi. Bantuin ibu ngangkatin barang-barang ke dalam,” tegur seorang ibu pemilik toko.

“Eh iya bu siap,” Ari membantu pemilik toko yang biasa dipanggil ibu haji. Nama aslinya Astuty Herawati, karena dia sudah haji dipanggillah ibu haji.

Ayah Ari sudah lama tiada, dia hanya mempunyai seorang ibu yang biasa dipanggil ‘emak’ sudah mulai beruban sana-sini. Warung kelontong milik emaknya hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Sebenarnya dia mempunyai beberapa kakaknya yang sekarang sudah pisah rumah. Jangankan membantu dirinya untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya, menghidupi mereka sendiripun susah.

Sudah lama Ari bekerja di toko ibu haji, yang dia inginkan kebutuhan sekolahnya terpenuhi. Meskipun dia sendiri tidak bisa seperti teman-teman sekelasnya yang bisa mengikuti kursus bahasa inggris dan bimbingan belajar. Uang hasil dari bantu-bantu ibu haji, dia kumpulkan untuk membeli buku, peralatan tulis, dan mewujudkan mimpinya.

Ari bekerja pada ibu haji sepulang dari sekolahnya sampai menjelang magrib. Waktu magrib sudah menjadi kebiasaan ia belajar mengaji al-Qur’an d masjid. Sepulang dari masjid, biasanya dia membantu emaknya menjaga warung sebagai sumber kehidupan keluarganya. Dalam keadaan seperti itu dia masih bisa belajar walaupun terkadang tidak nyaman, tapi itu resiko yang mesti dihadapi. Pada semester kemarin, dia masuk ranking 10 besar. Ranking 10 besar lumayan bagus, karena tempat belajarnya adalah SDN favorit di daerah Kabupaten Bandung barat.

Ari merasa kurang dalam mata pelajaran bahasa inggrisnya. Dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya, rata-rata semuanya mengikuti kursus bahasa inggris. Dia ingin seperti teman sekelasnya, Revina, yang fasih berbicara bahasa inggris. Dia tahu ikut kursus butuh biaya  yang cukup lumayan mahal baginya. Dia pun bertekad mengumpulkan uangnya lagi, agar bisa ikut kursus bahasa inggris.

Sehari-hari Ari sibuk melayani para pelanggan ibu haji.  Hitung-hitungan sudah biasa baginya, dan dia sudah bisa beradaptasi dengan ibu haji. Penghasilan dari ibu haji cukup buat kebutuhan uang jajan dan sekolahnya.

“Ri, ni uang saku buatmu. Tetap rajin belajar ya,” nasehat yang sering dilontarkan oleh ibu haji kepada Ari.

“Terimakasih banyak bu,” Ari bergembira menerima uang dua puluh ribu dari ibu haji. Biasanya dia Cuma dapat uang dari ibu haji lima ribu sampai delapan ribu perharinya. Ini jatah lebih baginya, uang itu dia masukkan ke dalam kencelengannya. Dia menghitung tabungannya, lumayan sudah banyak, tinggal sedikit lagi nambah uangnya. Dia membayangkan dirinya bisa ikut kursus bahasa inggris, dan bisa berpidato bahasa inggris bersama Revina di sekolahnya nanti. Dia hanya bisa tersenyum, pasti keinginannya akan terwujud pada suatu hari.

“Mak, dari tadi diam saja. Gimana mak gorengannya sudah laku belum?”

“Masih banyak gorengannya ri. Hari ini lagi sepi,” jawab emak.

“Mm insya Allah mak pasti ada yang mau beli gorengan ini,” Ari mencoba menenangkan hati emaknya.

“Sebentar lagi hari idul adha. Berbahagialah bagi mereka yang akan beribadah haji dan membagikan daging kurbannya kepada orang-orang yang sangat membutuhkannya.”

Ari hanya diam mendengarkannya, mengerti maksud emaknya Sudah lama emak ingin naik haji, tapi itu hanya dalam mimpi. Sebenarnya emaknya ingin berbagi kebahagiaan kepada orang-orang yang tidak mampu pada hari idul adha ini. Itulah Ari sering mendengar rintihan doa emaknya di penghujung sepertiga malam, bahwa emak selalu berdoa agar keinginannya berqurban di hari idul adha ini dikabulkan. Keinginan emaknya hanya itu, dia ingin mengikuti jejak langkah Nabi Ibrahim yang mengurbankan anaknya Ismail (diganti dengan seekor kambing oleh Allah) untuk menaati perintah Allah. Selain itu, dia ingin berbagi kebahagiaan kepada orang-orang yang tidak mampu.

Malam ini yang sangat menentukan, memutuskan untuk hari esok. Ari masih bingung, apakah uang yang selama ini kumpulkan untuk mewujudkan keinginan dirinya atau keinginan emaknya untuk berqurban di hari idul Adha? Dia belum bisa memutuskan, masih ragu memilih di antara dua pilihan.

Lomba pidato berbahasa Inggris antar kelas akan dimulai hari ini, dari kelas 5 hingga kelas 6 SD. Ari ingin sekali tampil pada perlombaan bahasa inggris ini. Dari kelas dia, kelas 5, hanya ada 7 orang yang tampil pada lomba pidato berbahasa Inggris ini. Dia hanya sebagai penonton dan penggembira bagi teman-teman sekelasnya yang tampil. Perlombaan pidato bahasa Inggris dilaksanakan setahun dua kali. Dia sudah bertekad harus jadi peserta perlombaan pidato bahasa Inggris pada tahun depan. Perlombaan pidato bahasa Inggris adalah perlombaan yang paling bergengsi di sekolahnya.

Hari-hari telah terlewati, keringat terus mengalir. Tak terasa saat ini uang yang terkumpul suda ada sekitar Rp. 950.000,00. Cukup uang ini untuk bisa ikut kursus bahasa Inggris selama 4 bulan ke depan, jika uang itu kurang bisa ditutupi dengan hasil kerja kerasnya lagi. Kerja keras dan selama dua tahun Ari menabung tidak sia-sia, sebentar lagi impiannya akan terwujud. Dia tersenyum, membayangkan dirinya ikut kursus bahasa inggris dan bisa mengalahkan Revina sang juara. Dan berharap Revina tersenyum dan senang pada dirinya.

Pekan depan Ari sudah memutuskan untuk mendaftar jadi siswa lembaga bahasa Inggris. Wajahnya sumringah selalu, dan dia berdiri di hadapan cermin, membayangkan dirinya jadi siswa lembaga bahasa Inggris. Belum mendaftar saja dia sudah semangat, apalagi kalau sudah resmi jadi siswa lembaga bahasa Inggris, kebahagiaan yang tak terbayangkan.

Alangkah bahagianya Ari hari ini. Dia ingin mengumumkan bahwa dirinya pasti akan berhasil jadi siswa lembaga bahasa Inggris. Kata orang, belajar bahasa Inggris itu sulit, kalaupun mau bisa harus ikut kursus. Apalagi bagi orang-orang yang ekonominya kelas bawah, mustahil bisa ikut kursus yang lumayan mahal. Dia hanya ingin berteriak, “ aku takkan pernah menyerah untuk menaklukkan mimpi-mimpi yang tidak mungkin, takkan pernah menyerah, takkan pernah…!”

Setibanya di rumah, Ari melihat emaknya sedang melamun sambil menunggu barang dagangannya yang kurang laku. Dia mengerti keinginan emaknya, merasa kasihan pada emaknya yang hampir tiap hari melamun. Hari idul adha tinggal beberapa hari lagi, dia masih ragu untuk memilih untuk keinginan dirinya sendiri atau keinginan emaknya.

Ari masuk ke kamarnya, merebahkan dirinya di atas kasur. Dia menatap langit-langit, sebentar lagi akan mewujudkan keinginannya untuk ikut kursus bahasa Inggris atau membahagiakan emaknya untuk membeli domba sebagai hewan kurban di hari raya idul adha. Dia membayangkan perjuangan emaknya memasukkan dirinya di SD paling favorit ketika abahnya telah tiada. Kasih sayang emak pada dirinya takkan pernah bisa dibalas, tapi dia ingin membahagiakan emaknya. Akhirnya dia memutuskan untuk membahagiakan emaknya.

Pagi hari yang cerah, Ari sudah berangkat ke pasar untuk membeli seekor domba. Dia menanyakan harga domba pada tiap Bandar domba. Para Bandar domba menganggapnya remeh, tak mungkin anak SD itu bisa membeli domba, apalagi dengan harga murah.

Ari sudah hampir putus asa, ternyata harga domba saja rata-rata harganya berkisar antara Rp. 1.300.000,00 s/d 1.600.000,00. Dia berpikir, apakah ada orang yang mau menjual dombanya dengan harga Rp. 950.000,00? Tak mungkin, katanya dalam hati. Masih ada harapan pikirnya, tinggal satu Bandar lagi. Dia hanya bisa berdoa, semoga Allah membuka hati Bandar yang terakhir ini. Diapun berangkat ke tempat tinggal Bandar domba yang terakhir itu.

Setibanya di tempat Bandar terakhir, dia menanyakan harga domba miliknya. Harganya tidak jauh berbeda dengan harga Bandar-bandar yang lainnya. Dengan nada tersedu-sedu Ari mengungkapkan keinginannya untuk membahagiakan emaknya.

“Apakah bapak mau menjual domba ini kepadaku dengan harga Rp. 950.000,00?”

Hati si Bandar itu tersentuh, dia belum pernah melihat ada seorang anak kecil dengan kerja kerasnya ingin membahagiakan emaknya. Dengan hati yang ikhlas, akhirnya dia bersedia menjual dombanya dengan harga Rp. 950.000,00.

Ari pun bergembira, akhirnya dia bisa mewujudkan keinginan emaknya untuk berqurban pada hari idul adha ini. Dia dan dombanya diantarkan oleh si Bandar tersebut. Dia berlari ke rumahnya.

“Emakk… cepat keluar, lihat ini,” teriak Ari yang hampir saja mengagetkan emaknya.

Emaknya segera keluar, kaget melihat anaknya membawa domba yang lumayan besar.

“Domba untuk siapa ri?” Tanya emaknya.

“Untuk emak.”

“Uang darimana kamu bisa beli domba montok ini?”

Ari mengerti keraguan emaknya. “Sudah dua tahun lamanya Ari ngumpulin uang. Al-hamdulillah akhirnya bisa beli domba montok ini. Ini juga berkat pak haji yang baik hati menjual harganya dengan murah,” si Bandar itu hanya tersenyum mendengar dirinya dipanggil pak haji, padahal dirinya belum pernah berhaji.

Emaknya jatuh berlutut dengan genangan air matanya yang tak bisa dibendung. Tak disangka, ternyata keinginannya untuk berqurban hari idul adha ini datang melalui anaknya sendiri. Emak pun bersujud syukur.

Selesai….


[1] Kepala Dept. kebijakan Publik KAMMI Daerah Bandung 2009-2010

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Al-Ahkam Assuthoniyyah dan Konsepsi Negara Menurut perspektif al-Qur’an dan Assunnah

by; Iman Munandar

(makalah ini pernah disampaikan untuk mengikuti DM 3 KAMMI)

ABSTRAKSI

Qur’an Surat an-Anisa ayat 58-59 menunjukkan bahwa kedudukan kedaulatan atau dikenal dengan Negara dalam Islam sangat strategis. Karena Negara sebagai alat yang sangat mampu mengimplementasikan wahyu-wahyu Allah dalam kehidupan umat manusia. Hal ini didukung oleh Sunnah/piqih siroh mengenai gagasan Rosul dalam rangka mempersatukan masyarakat madinah yang heterogen, yang lebih dikenal dengan piagam madinah. Ini menunjukkan bahwa telah ada pada zaman Rasulullah praktek bernegara.

Islam adalah ajaran yang universal dan integral. Islam mengatur seluruh kehidupan manusia baik di bidang Politik, pemerintahan, ekonomi, social, budaya, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Islam tidak dapat dipisahkan dari politik, ekonomi, hukum, social, budaya, system pemerintahan.

Negara ialah sebuah alat yang sangat efektif untuk mengimplementasikan wahyu-wahyu Allah ke dalam kehidupan umat manusia. Praktek bernegara dalam Islam telah ada pada zaman Rosulullah hingga runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah runtuh pada tahun 1924M. Pasca khilafah runtuh dan munculnya Negara bangsa, banyak para ulama yang melakukan redefinisi tentang konsep Negara dan bentuknya, walaupun terjadi perbedaan pendapat. Namun masalah tersebut masih wajar. Yang terpenting bagi aktivis gerakan Islam ialah memasukkan nilai-nilai Islam dalam konstitusi menuju Khilafah Islamiyyah manhaj Nubuwwah yang dirindukan itu.

Kata Pengantar

Untaian puja dan puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam, yang telah memberikan segala kenikmatan kepada penyusun sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah ini untuk memenuhi persyaratan administrasi Dauroh Marhalah 3 (DM3) yang diadakan oleh KAMMI Teritorial IV.

Terima kasih banyak kepada akh Kadir atas dorongan untuk mengikuti DM3 dan gagasan-gagasan yang sangat luar biasa dalam menjemput masa depan Islam. Dan semua pengurus dan kader KAMMI UNISBA atas doanya.

Dalam makalah ini penyusun menyadari masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi siapa pun juga yang ingin terus menggali potensinya dalam bidang ilmu pengetahuan dalam rangka redefinisi kembali Negara Islam. Semoga Allah Swt. Menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang tangguh dalam amar ma’ruf nahi munkar. Amiin..

14 Desember 2008

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masalah konsep Negara menurut perspektif Islam hingga kini masih menjadi perdebatan. Setidaknya ada dua kelompok yang berpendapat, yaitu yang pertama; bahwa Islam dan Negara merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Sedangkan kelompok kedua; berpendapat Islam dan Negara harus dipisahkan[1].

Di sini tidak akan menjelaskan perbedaan pendapat dua kelompok tersebut, namun dalam makalah ini mencoba menguraikan dan menganalisa teori-teori ulama klasik mengenai konsep daulah menurut Islam, khususnya buku tentang al-Ahkam al-Suthoniyyah fi al-Wilayah ad-Diniyyah karya imam al-Mawardi yang fenomenal dan mencoba mengaitkannya dengan konsep Negara Islam menurut para ahli lainnya.

Yang menarik dalan tulisan Anis Matta; “..bahwa era konsep Negara-bangsa (Nation State) yang menjadikan nasionalisme sebagai ruhnya telah berakhir. Sebagai gantinya muncul konsep Negara etnis dan  konsep Negara Agama”[2]. Konsep Negara Agama, khususnya konsep Negara islam kini banyak bermunculan, ini didasari rindu akan peradaban Islam yang telah lama hilang. Namun sekali lagi, dalam makalah ini akan mencoba menguraikan dan menganalisa teori-teori tentang konsep atau Hukum Tata Negara menurut perspektif al-Qur’an dan Sunnah.

B. Perumusan Masalah

Dalam perumusan masalah ini dibagi ke dalam dua bagian sebagai berikut:

1.          Identifikasi Masalah

Wilayah penelitian : Wilayah penelitian dari makalah ini adalah konsep dan bentuk Negara dalam Islam yang terdapat dalam literature-literatur konsep Negara baik klasik muapun modern.

Pendekatan penelitian : pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan komparatif normatif

Jenis masalah : jenis masalah dalam penelitian ini adalah masalah hukum Islam maupun pendapat para ahli Hukum Islam dan ilmuwan

II. Rumusan masalah

Untuk mengarahkan makalah ini, maka dibuatlah rumusan masalah sebagai berikut :

1.      Bagaimana konsep dan bentukNegara perspektif al-Qur’an dan Sunnah?

2.      Bagaimana kedudukan Negara dalam Islam?

3.      Bagaimana konsep Islam mengenai politik, system pemerintahan, ekonomi, dan hukum

C.Anggapan Dasar

¨bÎ) ©!$# öNä.ããBù’tƒ br& (#r–Šxsè? ÏM»uZ»tBF{$# #’n<Î) $ygÎ=÷dr& #sŒÎ)ur OçFôJs3ym tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# br& (#qßJä3øtrB ÉAô‰yèø9$$Î/ 4 ¨bÎ) ©!$# $­KÏèÏR /ä3ÝàÏètƒ ÿ¾ÏmÎ/ 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $Jè‹Ïÿxœ #ZŽÅÁt/ ÇÎÑÈ

58. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat. (Q.S. an-Nisa :58)

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãè‹ÏÛr& ©!$# (#qãè‹ÏÛr&ur tAqߙ§9$# ’Í<‘ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt“»uZs? ’Îû &äóÓx« çnr–Šãsù ’n<Î) «!$# ÉAqߙ§9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrù’s? ÇÎÒÈ

59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(Q.S. an-Nisa:59)

Ayat di atas menunjukkan bahwa kedudukan kedaulatan atau dikenal dengan Negara dalam Islam sangat strategis. Karena Negara sebagai alat yang sangat mampu mengimplementasikan wahyu-wahyu Allah dalam kehidupan umat manusia. Hal ini didukung oleh Sunnah/piqih siroh mengenai gagasan Rosul dalam rangka mempersatukan masyarakat madinah yang heterogen, yang lebih dikenal dengan piagam madinah. Ini menunjukkan bahwa telah ada pada zaman Rasulullah praktek bernegara.

Islam adalah ajaran yang universal dan integral. Islam mengatur seluruh kehidupan manusia baik di bidang Politik, pemerintahan, ekonomi, social, budaya, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya.

D.Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan ini dimaksudkan sebagai berikut;

1. untuk mengetahui konsep dan bentuk Negara perspektif al-Qur’an dan Sunnah

2. untuk mengetahui kedudukan Negara dalam Islam

3. untuk mengetahui konsep Islam mengenai politik,system pemerintahan, ekonomi, dan hukum.

E. Sistematika Penulisan

Systematika penulisan terdiri dari sub bab sebagai berikut ;

BAB 1 PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, identifikasi atau rumusan masalah, tujuan penulisan, anggapan dasar, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

BAB II PEMBAHASAN DAN ANALISA

Bab ini menguraikan pembahasan tentang konsep dan bentuk Negara, kedudukan Negara, dan konsep Islam mengenai system pemerintahan, ekonomi, dan hukum. Dan menganalisa masalah-masalah tersebut.

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan bab penutup, berisi kesimpulan dan saran yang kiranya bermanfaat untuk aktivis gerakan mahasiswa dalan redefinisi tentang konsep Negara yang berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah.

BAB II

PEMBAHASAN DAN ANALISA

A.Definisi dan Bentuk Negara

Banyak pendapat para sarjana  dan tokoh gerakan Islam merumuskan definisi dan bentuk Negara menurut perspektif Islam. Ada yang menyatakan bentuk khilafah, republic, Negara bangsa, dan lain sebagainya.

Negara merupakan sarana atau alat untuk mengimplementasi kehendak dan cita cita warga negaranya, bisa dilihat dari tujuan setiap Negara. Definisi Negara yang dikemukakan oleh Roger H. Soltau ialah :

“Negara adalah alat atau wewenang yang mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama atas nama masyarakat”[3]

Menurut Anton Minardi, bahwa prinsip prisnsip bernegara telah dipraktekkan oleh Rosulullah Saw, faktanya ialah piagam madinah dan menjadikan semua persoalan yang tidak bisa diatasi dikembalikan kepada Rosulullah untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Ini menunjukkan bahwa praktek bernegara telah ada pada zaman Rosulullah. Hal ini diakui oleh para orientalis seperti; Robert N Bellah, Montgomery Watt, John L. Esposito, Antony Black, dan lain lain[4].

Sedangkan bentuk Negara yang dikatakan oleh Hasan al-Banna ialah;

“Negara Islam adalah Negara yang merdeka, tegak di atas syari’at Islam, bekerja dalam rangka menerapkan system sosialnya, memproklamasikan prinsip prinsip yang lurus, dan melakukan dakwah yang bijak ke segenap umat manusia. Negara islam berbentuk khilafah. Khilafah adalah kekuasaan umum yang paling tinggi dalam agama Islam. Khilafah Islam didahului oleh berdirinya pemerintahan islam di Negara Negara Islam.”

Fazlur Rahman berpendapat bawa ;

“Negara Islam ialah Negara yang didirikan  atau dihuni oleh umat Islam dalam rangka memenuhi keinginan mereka untuk melaksanakan perintah Allah melalui wahyu-Nya. Implementasi Negara tidak ditentukan secara khusus, tetapi yang paling penting yang hars dimiliki ialah syuro / musyarah.[5]

Dalam buku al-Ahkam Suthoniyyah, karya imam al-Mawardi, tidak menjelaska definisi tentang Negara Islam, namun bisa dilihat dari bab tentang Pengangkatan Imam hingga bab Ketentuan-ketentuan seputar Hisbah menunjukkan bawa praktek bernegara dalam Islam telah ada sejak zaman Rosulullah Saw. Yang menjadi pertanyaan kenapa tidak dijelaskan tentang Negara dalam Islam? Sebetulnya dalam literature-literatur klasik secara implicit menjelaskan tentang konsep Negara dan bentuknya.

B.Kedudukan Negara dalam al-Qur’an dan Sunnah

Kedudukan Negara dalam Islam sangat penting, karena menegakkan hukum Islam dalam kehidupan masyarakat secara sempurna dan efektif melalui Negara. Banyak dalil-dalil untuk menegakkan dan menetapkan suatu perkara dengan hukum Allah. Ini menunjukkan bahwa menerapkan hukum Allah dalam kehidupan manusia ini membutuhkan sebuah alat kekuasaan, yaitu; Negara. Diantara dalil yang berbicara masalah tersebut ialah :

* ¨bÎ) ©!$# öNä.ããBù’tƒ br& (#r–Šxsè? ÏM»uZ»tBF{$# #’n<Î) $ygÎ=÷dr& #sŒÎ)ur OçFôJs3ym tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# br& (#qßJä3øtrB ÉAô‰yèø9$$Î/ 4 ¨bÎ) ©!$# $­KÏèÏR /ä3ÝàÏètƒ ÿ¾ÏmÎ/ 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. $Jè‹Ïÿxœ #ZŽÅÁt/ ÇÎÑÈ

58. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãè‹ÏÛr& ©!$# (#qãè‹ÏÛr&ur tAqߙ§9$# ’Í<‘ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt“»uZs? ’Îû &äóÓx« çnr–Šãsù ’n<Î) «!$# ÉAqߙ§9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrù’s? ÇÎÒÈ

59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Di atas menunjukkan bahwa kedudukan Negara dalam Islam sangatlah penting. Masih banyak dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah yang membicarakan praktek bernegara.

C.Sistem Pemerintahan Islam

Dalam buku al-Ahkam Suthoniyyah menunjukkan bahwa system pemerintahan Islam ialah berbentuk Khilafah. Ini dipengaruhi pada masa hidup imam al-Mawardhi system pemerintahan yang berlaku pada saat itu ialah khilafah kerajaan, yaitu bani Abbasiyyah. Buku tersebut menjadi fenomenal karena berani mendobrak system status quo, yaitu kekuasaan turun menurun. Boleh dikatakan bahwa konsep pemerintahan yang ditawarkan oleh imam al-Mawardi mendekati pada system demokrasy tidak langsung. Bisa dilihat dari pengangkatan Imam/Kholifah, criteria-kriteria kholifah, hingga pemilihan kholifah dipilih dengan dua cara, yaitu ; pertama, pemilihan oleh ahlu al-aqdi wa al-hal (Parlemen). Kedua, penunjukkan imam sebelumnya[6], Atau lebih tepatnya disebut system pemerintahahn khilafah ala manhaj nubuwwah yaitu pemerintahan yang pernah diterapkan oleh para sahabat, disebut juga Khulafaur Rasyidin. System khilafah ala manhaj nubuwwah sebagai berikut;pertama, khilafah berdasarkan pemilihan. Kedua, pemerintahan berdasarkan musyawarah[7].

Setelah Khilafah Ustmaniyyah runtuh pada tahun 1924 Masehi, maka yang terjadi ialah bentuk Negara Bangsa yang sekuler. System Khilafah kerajaan tenggelam, muncullah nation state yang sekuler[8]. Pada masa transisi itu lewat, dan nation state yang sekuler tidak membawa harapan bagi umat Islam untuk menyelesaikan permasalahan yang komplek dan sesak. Muncullah gagasan-gagasan Negara Bangsa yang relegius yang diusung oleh aktivis gerakan Islam untuk menjawab tantangan yang dihadapi oleh umat Islam. Ada juga gerakan Islam yang tidak sepakat dengan system Negara bangsa yang relegius.

Pada dasarnya semua gerakan Islam ingin menegakkan system pemerintahan khilafah ala manhaj nubuwwah, namun dalam tahap implementasi berbeda-beda. Ada yang melalui legal formal; partisipasi dalam pesta demokrasi, ada juga melalui non legal formal.

D.Konsep Islam mengenai Sistem Ekonomi

System ekonomi Islam tidak termasuk pada system ekonomi liberal atau pasar maupun system ekonomi sosialis maupun Social Market yang bermula di Jerman kemudian berkembang di negra Eropa. Ekonomi Islam atau lebih sering di sebut Ekonomi Syari’ah sebagai alternatif dari system ekonomi yang ada.[9]

Abdillah Toha menyatakan bahwa;

“Ekonomi Syari’ah bukanlah sebuah bangunan teori ekonomi yang membahas hukum penawaran dan permintaan umpamanya, lebih pantas disebut sebagai Ekonomi Politik Islam. Ekonomi Syari’ah bertumpu kepada suatu system ekonomi tanpa riba atau bunga bank, karena riba dianggap sebagai salah satu unsure yang menghalangi tujuan utama Ekonomi Syari’ah, yakni adanya keadilan bagi distribusi pendapatan dan kekayaan.” [10]

Sebagaimana firman Allah Swt. Sebagai berikut :

šúïÏ%©!$# tbqè=à2ù’tƒ (#4qt/Ìh9$# Ÿw tbqãBqà)tƒ žwÎ) $yJx. ãPqà)tƒ ”Ï%©!$# çmäܬ6y‚tFtƒ ß`»sÜø‹¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# 4 y7Ï9ºsŒ öNßg¯Rr’Î/ (#þqä9$s% $yJ¯RÎ) ßìø‹t7ø9$# ã@÷WÏB (#4qt/Ìh9$# 3 ¨@ymr&ur ª!$# yìø‹t7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# 4 `yJsù ¼çnuä!%y` ×psàÏãöqtB `ÏiB ¾ÏmÎn/§‘ 4‘ygtFR$$sù ¼ã&s#sù $tB y#n=y™ ÿ¼çnãøBr&ur ’n<Î) «!$# ( ïÆtBur yŠ$tã y7Í´¯»s9’ré’sù Ü=»ysô¹r& ͑$¨Z9$# ( öNèd $pkŽÏù šcrà$Î#»yz ÇËÐÎÈ

275. Orang-orang yang Makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

[174] Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam ayat ini Riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah.

[175] Maksudnya: orang yang mengambil Riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan syaitan.

[176] Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan.

Hingga kini banyak Negara Islam menerapkan system ekonomi Syari’ah menjadi legal dalam kontsitusi. Seperti di Indonesia UU RI Nomor 21 Tahun 2008 yang mengatur Perbankan Syari’ah.

E.Konsep Islam mengenai Peradilan

Peradilan sebagai tempat untuk menyelesaikan suatu perkara baik perdata maupun pidana dan memberi keputusan terhadap perkara tersebut. Dalam literature-literatur klasik Peradilan Islam dikenal dengan istilah Qodhi atau lembaga kehakiman.

Pada masa Rosulullah, semua persoalan hukum dikembalikan kepada beliau dan beliau menyelesaikan perkara-perkara tersebut. Setelah Rosulullah wafat, yang mengambil peran sebagai hakim ialah para sahabat yang faqih dalam bidang Hukum Islam dalam, misal ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit, dan lain-lain. Hakim-hakim pada masa Khulafaur Rasyidin maupun Tabiin dalam menyelesaikan suatu perkara mereka berpedoman pada al-Qur’an, as-Sunnah, Ijtihad, Qiyas, dan lain sebagainya[11].

Lembaga kehakiman atau yudikatif telah ada pada zaman Rosulullah, sebelum muncul teori Trias Polika yang digagas oleh Montesquieu pada abad 19 Masehi. Teori trias politika yang memisahkan kekuasaan eksekutif, legistatif, dan yudikatif[12].

Syarat-syarat Hakim dalam buku al-Ahkam as-Suthoniyyah sebagai berikut;

1.      Laki-laki yang baligh

2.      Mempunyai akal untuk mengetahui taklif (perintah), harus mempunyai pengetahuan tentang hal-hal dzaruri(urgen) untuk diketahui, hingga ia cerdas membedakan segala sesuatu yang benar.

3.      Merdeka

4.      Islam

5.      Adil

6.      Sehat pendengaran, penglihatan, dan jasmani

7.      Mengetahui hukum-hukum syari’at; ilmu-ilmu dasar (ushul) dan cabang-cabangnya (furu)[13] .

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalil-dalil al-Qur’an berbicara tentang masalah Negara sebagai alat implementasi wahyu-wahyu Allah dalam kehidupan umat manusia. Hal ini juga didukung oleh hadis nabi Saw. Baik hadist Qauliyah maupun fi’liyah. Dalam perkembangannya para ahli berbeda pendapat mengenai konsep dan bentuk Negara menurut Islam. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh perkembangan politik pada masa hidup para ahli, hal ini dalam Islam ialah wajar. Pada dasarnya pendapat para ahli mengenai konsep dan Negara berdasarkan al-Qur’an, Sunnah, dan Ijtihad. Dan mereka telah sepakat bawa pada zaman Rosulullah Saw. Telah ada praktek bernegara.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi aktivis gerakan Islam maupun masyarakat pada umumnya. Saran-saran dalam rangka fastabiqul khoirot dalam ilmu pengetahuan sangat diharapkan. Wallahu ‘alam bi showab.

DAFTAR PUSTAKA

Anis Matta, Menikmati Demokrasi, Insan Media; Jakarta, 2007

Anton Minardhi, Konsep Negara dan Gerakan Baru Islam menuju modern sejahtera,

Prisma Press; Bandung, 2008

Bahsan Mustofa, Sistem Hukum Administrasi Negara Indonesia,

Citra Aditya bakti;Bandung,2001

Imam al-Mawardi, al-Ahkam as-Suthoniyyah,Darul Falah; Jakarta, 2000

Jaih Mubarok, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, ROSDA;Bandung, 2003

Miriam Budiarjo, Dasar dasar Ilmu Politik, Jakarta : Gramedia, 2003

Paul M. Johnson, kamus Ekonomi Politik, TERAJU;Jakarta, 2003.

Yusuf Qardhawy, Pedoman Bernegara dalam Islam, Pustaka kaustar;Jakarta, 1999


[1] Anton Minardi, Konsep Negara dan Gerakan Baru Islam, (Bandung:Prisma Press, 2008) hal.54-55

[2] Anis Matta, menikmati Demokrasi, (Jakarta : Insan Media Publising House, 2007) hal. 54

[3] Miriam Budiarjo, Dasar dasar Ilmu Politik (Jakarta : Gramedia, 2003) hal.39

[4] Op.cit, Anton Minardhi. Hal. 31-34

[5] Op.cit hal 35-36

[6] Imam Mawardi, ahkam suthoniyyah, (Jakarta:Darul Falah, 2000) hal.1-6

[7] Op.cit. Anton Minardi.hal. 85-86

[8] Salah satu contohnya ialah Negara Turki, yang dipelopori oleh Kemal Attaturk yang meminggirkan system Islam dari wilayah public. Lihat buku Berperang Demi Tuhan, Karen Amstrong.

[9] Paul M. Johnson, KAMUS Ekonomi Politik, (TERAJU:Jakarta, 2003) hal. v-xii.

[10] Ibid. hal.viii

[11] Jaih Mubarok, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, (ROSDA;Bandung, 2003) hal.3-58.

[12] Bahsan Mustafa, Sistem  Hukum Administrasi Negara Indonesia, (Citra Aditya Bakti:Bandung, 2001) hal.1-3

[13] Op.cit. Imam al-Mawardi.hal.122-125.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

AKU INGIN

By; Iman Munandar

Tak terasa usiaku kini menginjak 38 tahun. Peristiwa-peristiwa sudah terlewatkan, kini aku dan suamiku mengelola sebuah pondok pesantren yang cukup terpandang di Kabupaten Bandung.  Ya memang tidak mudah  mengelola pesantren agar tetap bertahan reputasinya di mata masyarakat. Pesantren ini warisan Abah kepada putera-puetrinya, aku memiliki 6 bersaudara. Semuanya kini mengelola pesantren ini.

Setelah mengajarkan bahasa arab kepada santri-santri, aku pulang ke rumah menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anakku. Semuanya sudah siap, sambil menunggu mereka aku menghidupkan TV. Siang ini hampir seluruh TV nasional menyiarkan berita pemilihan ketua DPR RI. Hasil pemilihan pada pemilu legislative mayoritas berwajah muda dan baru. Dengan pemilihan berdasarkan voting akhirnya yang terpilih jadi ketua DPR adalah seorang anak muda dan cukup berwibawa kelihatannya. Kulihat wajah dan namanya, kurasa aku pernah mengenalnya, tapi entah di mana.

Anak-anak sudah tidur semuanya. Aku dan suamiku menonton sebuah siaran special yang mewawancarai seorang yang masih muda kini menjabat sebagai ketua DPR RI baru terpilih. Sesi wawancara pun terjadi. Aku berpikir memang orang ini pantas jadi ketua DPR RI. Dari gaya bicaranya yang kalem dan elegan bisa memukau para pemirsa. Perasaanku pernah mengenalnya, tapi aku lupa lagi.

“Kira-kira pengalaman apa yang berpengaruh pada kehidupan bapak?” Tanya presenter TV tersebut.

“Mmm apa yach.. ketika saya masih di pesantren pernah jatuh cinta pada seorang santriwati. Dan saat itu juga saya memberanikan membacakan sebuah puisi  karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul ‘AKU INGIN’ di depan kelas si santriwati tersebut. Ya konsekuensinya saya kena hukuman dari pesantren,” jawab lelaki itu dengan santai. Presenter dan pengamat politik tersenyum mendengarkan, kedengarannya aneh.

Sepertinya peristiwa ini pernah terjadi pada diriku beberapa waktu yang lalu saat aku masih MTS (setingkat SLTP). Coba kuingat-ingat, apakah dia memang kakak kelasku dulu di pesantren, benarkah ini kak Ipul yang dulu? Kalau memang ini kak Ipul yang bernama Saiful Amri Fakhruddin, subhanallah ternyata sekarang dia jadi elit politik.

“Kenapa Umi senyum-senyum? Umi kenal ya,” Tanya suamiku terheran-heran.

“Iya Abi, kalau tidak salah dia kakak kelas umi waktu pesantren dulu.”

“Terus siapa santriwati yang dimaksudkan?”

Hatiku berdegup ketika suamiku bertanya siapa santriwati tersebut, terpaksa aku pun berbohong, ”mmm teman Umi sekelas dulu.”

“Oh gitu ya, ya udah kita istirahat mi, udah malam.”

Malam ini aku susah untuk tidur. Tidak kusangka perubahan yang menimpa kak Ipul. Ah terkadang kehidupan ini memang aneh. Kucoba mengingat alur cerita antara aku dan dia.

*****************************

Saat itu aku resmi jadi seorang santri di sebuah pondok pesantren modern yang cukup terkenal dengan dua bahasa asingnya. Walaupun abah punya pesantren sendiri, dia tetap bersikukuh harus memesantrenkan anak-anaknya di pesantren yang terkenal, agar suatu saat setelah kami kembali bisa mengembangkan pesantrennya sendiri.

Waktu demi waktu telah kujalani kehidupan di pesantren, al-hamdulillah aku juara 1 pada semester pertama. Keluargaku pun bangga melihat puteri bungsunya mendapatkan penghargaan dari pesantren.

Akhirnya aku naik ke kelas dua Mts. Dengan semangatnya aku belajar terus menerus, dan kini aku  bisa berpidato dengan dua bahasa asing, ‘sempurna’ kata ustadz yang mengujiku. Aku bangga bisa terpilih jadi duta dari pesantren pada kegiatan perlombaan se Indonesia.

Waktunya istirahat sekarang, akupun siap-siap masuk ke kamar. Kakak kelasku berjalan mengarah padaku. Dengan berbisik-bisik dan menyembunyikan sesuatu kepadaku.

“Fatimah, ini ada surat dari temanku untukmu. Hati-hati jangan sampai ketahuan ma asatidzah (ustadzah),” bisik kak Mega.

Aku pun bersikap tenang biar tidak terlihat mencurigakan. Tiba di kamar, aku pun membaca surat tersebut. Tak kusangka, ternyata isi tulisannya mengungkapkan rasa cinta padaku. Dia meminta jawaban dariku, apakah rasa cinta ini harus kuterima? Aku tahu bahwa pacaran atau ikhtilat di pesantren sangat terlarang, konsekuensi hukumnya sangat berat. Lagi pula nama lelaki itu bukanlah santri yang mempunyai prestasi.

Dua hari kemudian, aku memberikan sebuah jawaban kepada kak Mega. Bahwa aku menolak cintanya, dan tidak mau pacaran.

Pada waktu siang ketika kebetulan para asatidz sedang ada rapat, tiba-tiba di depan kelasku semua kakak kelas berkumpul, ada seorang lelaki maju ke depan dan berteriak memanggil namaku. Dia berteriak dengan suara gagap akan membacakan sebuah puisi untukku. Aku sangat malu dipermalukan seperti ini di depan umum.

Dia akhirnya membacakan sebuah puisi ‘AKU INGIN’

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Damono, 1989)

Peristiwa ini menjadi berita utama di pesantren, dan akhirnya dia kena hukuman yang sangat berat. Peristiwa ini juga yang membuatku sangat malu.

Ketika dia lulus UAN Mts, dan tidak melanjutkan lagi di pesantren ini. Pernah dia mengirimkan sebuah surat kepadaku, menyatakan permohonan maafnya padaku. Dia berkeyakinan pasti suatu saat nanti akan bertemu lagi. Pengirim surat itu bernama Ipul, namanya Saiful Amri Fakhruddin. Kurobek dan dibuang surat yang tidak penting itu.

**********************

Sudah enam tahun lamanya pesantren, al-hamdulillah akhirnya aku diterima di Universitas Islam Negeri Bandung. Seperti mahasiswa pada umumnya aku menjalani kehidupan kampus, seperti kuliah dan berorganisasi. Aku lebih tertarik pada organisasi komunitas pengembangan bahasa asing. Saat itulah kampus kerap memilih diriku sebagai duta kampus dalam acara debat dengan menggunakan bahasa Arab dan Inggris. Walaupun hanya meraih juara 2, aku bangga bisa mengalahkan para competitorku dari kampus UI, ITB, IPB, dan kampus-kampus lain.

Pada saat itu suasana politik nasional sedang panas. Semua gerakan mahasiswa turun ke jalan hampir setiap hari. Menuntut dibereskannya kasus bank Century yang diduga melibatkan para elit politik. Sementara di kampusku poster-poster propaganda menempel di mana-mana, dan mimbar kampus kerap terjadi setiap hari menghimbau kepada seluruh mahasiswa untuk segera bergabung turun ke jalan tuntaskan century gate dan ganti rezim.

Sementara di gedung DPR dalam sidang pansus century banyak temuan yang ganjil. Terkesan pemerintah menutupi rapat kasus ini, walaupun dalam retorika politik ‘kasus korupsi harus diberantas tanpa pndang bulu’ selalu digaungkan.

Sebenarnya aku tidak suka politik, namun keadaan yang mendesak memaksa diriku untuk mengambil peran. Kasus century jika dilihat nominalnya memang tidak sebanding dengan kasus BLBI. Kasus BLBI hingga kini masih terkatung-katung memang tidak diimbangi dengan proses politik. Tentunya kita tidak menginginkan kasus century seperti kasus BLBI yang telah tenggelam pada dasar lautan. Rakyatlah yang harus menanggung kerugian BLBI.

Semua elemen gerakan mahasiswa melakukan rapat akbar di ITB. Terjadi perbedaan pendapat politik, semuanya bagiku ini hanya ajang untuk cari muka. Maklum selama ini aku bukan orang politik, baru saja masuk pada cabinet BEM universitas, tidak begitu mengerti tentang perpolitikan. Aku dan teman-temanku perempuan semuanya diam tanpa kata, tapi kami sepakat untuk turun aksi. Karena sekali lagi ini keadaan yang mendesak memaksa kami harus terlibat dalam proses perubahan negeri ini.

Aku melihat seorang mahasiswa yang berargumentasi pentingnya semua mahasiswa untuk turun ke jalan menekan para semua pemegang kebijakan public untuk menyelesaikan kasus century tanpa pandang bulu. Semuanya sepakat turun ke jalan, walaupun secara teknis tidak ada kesepakatan aliansi. Ternyata aku mengenalnya, orang yang berbicara tadi kak Ipul.

Ketika kami hendak pulang, tiba-tiba kak Ipul memanggil namaku. Kami pun sebentar bercakap-cakap. Setelah peristiwa century ini, dia sering berkomunikasi denganku. Aku hanya menganggap dia hanya sebagai sahabat, tidak lebih dari itu. Suatu hari, dia datang ke rumahku. Aku tidak tahu maksud kedatangannya.

Ternyata dia datang bermaksud untuk melamarku, aku kaget tidak menyangka hal ini bisa terjadi. Kedua kalinya aku dipermalukan oleh lelaki ini di depan keluargaku. Aku memberanikan diri untuk berkata:

“Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada kakak. Selama ini saya menganggap kakak hanya sebagai teman. Kakak bukan orang yang hadir dalam hati saya ini.”

“De Ipul sudah ngerti apa maksud anakku?” Tanya abah pada kak Ipul.

“Iya pak saya ngerti. Kalau begitu saya mohon pamit dulu. Wassalamu ‘alaikum.”

***********************************************

Itulah kisah yang terjadi anatara aku dan dia. Aku bangun dari tempat tidur, menghidupkan computer yang tersambung dengan internet. Aku mencari profile dia dan puisi yang berjudul ‘AKU INGIN’. Akhirnya aku telah menemukannya, aku tidak menyangka perubahan yang terjadi padanya. Telah banyak keberhasilan yang telah diraihnya, entah resep apa yang merubah dirinya. Sangat jauh berbeda keadaan dia 20 tahun lebih yang lalu. Selama ini aku selalu menganggap dia rendah dari berbagai hal. Tapi akhirnya bisa seperti ini, begitu hebat. Apakah puisi ini berpengarh pada perbahan dirinya? Aku mencoba untuk memahami puisi itu, namun aku tidak mengerti apa maksud puisi ini. Tapi aku ingin membacanya sekali lagi;

AKU INGIN’

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Damono, 1989)

Al-hamdulillah selesai di Cililin jam 15.22 21 septmber 2010.

Iman Munandar (085294553964)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Menjemput Janji Allah tentang Khilafah ‘ala Minhajul Nubuwwah (Pemerintahan atas Minhaj Kenabian)

By; Iman Munandar

Sebuah Pengantar

Hadist yang diriwayatkan oleh Hudzaifah bin al-Yamani, dari Nabi Saw sebagai berikut; dari Nu’man bin Basyir, ia berkata; kami duduk-duduk di Masjid Rosulullah Saw, Basyir adalah seorang yang tidak banyak bicara. Kemudian datang Abu Tsalabah seraya berkata; wahai Basyir bin Sad, apakah kamu hapal hadist Rosulullah tentang para penguasa? Maka hudzaifah tampil seraya berkata, aku hapal khutbahnya. Lalu Abu Tsalabah duduk mendengarkan Hudzaifah berkata; Rosulullah Saw bersabda;

1. Muncul kenabian di tengah-tengah kamu selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian Ia akan mencabutnya ketika Ia menghendakinya.

2. Kemudian akan muncul khilafah sesuai dengan system kenabian selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian ia akan mencabutnya ketika Ia menghendakinya.

3. Kemudian akan muncul raja yang menggigit selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian Ia akan mencabutnya ketika Ia menghendakinya.

4. Kemudian akan uncul raja yang dictator selama masa yang dikehendaki Allah, kemudian Ia akan mencabutnya ketika Ia mmenghendakinya.

5. Kemudian akan muncul lagi khilafah sesuai dengan system kenabian

(dikeluarkan oleh Ahmad di beberapa tempat, diantaranya, 4/275; Sunan Abu Dawud, 4/211; Tirmidzi; 4/503)

Hadist di atas sangat terkenal di kalangan para aktivis gerakan Islam akan janji Allah kembalinya fase khilafah ‘ala minhajul nubuwwah. Berbagai teori bermunculan untuk menyiapkan janji tersebut. Tentunya dengan berbagai persepsi gerakan Islam masing-masing, baik gerakan Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Ahmadiyah, Syi’ah, dan lain sebagainya.

Syaikh Yusuf Qhardawi menyatakan bahwa saat ini umat Islam berada pada fase ke empat, dan hadist tersebut membawa kabar berita baik tentang akan lenyapnya era pemerintahan dictator yang otoriter, zhalim, dan kejam kemudian disusul dengan kekhilafahan yang berdasarkan kenabian[1]. Pandangan Yusuf Qhardhawi berdasarkan pada kejadian para penguasa tiran dan dictator yang lahir pada waktu bersamaan. Seperti Soekarno di Indonesia, di Yugoslavia ada Tito dan Nasser di Mesir. Ketika Soeharto membungkam rakyat Indonesia, di Irak ada Saddam, di Libya ada Khadafi, di Syiria ada Asaad. Pada abad ini pula lahir penguasa seperti Hitler, Stalin, dan Mussolini[2], dan penguasa yang tiran dan otoriter yang biasa terjadi pada dunia ketiga.

Keyakinan akan lenyapnya fase ke empat ini, tentunya didasarkan dengan semaraknya kebangkitan gerakan-gerakan Islam di dunia ini. Mereka terlibat baik dalam gerakan structural, gerakan cultural, maupun gerakan angkatan bersenjata dalam mewujudkan cita-cita politik Islam. Tentunya diantara mereka ada yang memanfaatkan system demokrasi maupun menolak system demokrasi yang dianggap system kufur. Terkadang hal tersebut menjadi sebuah polemic diantara gerakan-gerakan Islam mengenai metode perjuangan dalam mendirikan cita-cita politik Islam atau khilafah ‘ala minhajul nubuwwah.

Dalam tulisan ini penulis tidak akan membahas berbagai teori tentang bagaimana menegakkan cita-cita politik umat Islam. Penulis akan membahas peluang janji Allah sebagaimana yang terdapat dalam hadist di atas.

Sebuah Peluang dari Indonesia

Era kediktatoran di Indonesia sudah berakhir dengan naiknya era reformasi. Era reformasi membuka ruang yang sebebas-bebas bagi para aktivis dakwah untuk menjalankan cita-cita politik mereka. Tidak heran jika seorang Yusuf Qhardhawi memberikan apresiasi terhadap BJ Habibie. Karena pandangan-pandangan demokrasi yang dianut oleh BJ Habibie memberikan ruang yang luas bagi gerakan dakwah Islam untuk tumbuh dan berkembang. Wajarlah jika komentar beliau yang menyatakan bahwa insya allah kejayaan peradaban Islam akan dimulai dari Indonesia. Jadi apakah Indonesia adalah Negara yang pertama kali menjemput janji Allah? Mungkin hal ini bisa terjadi. Sebagaimana komentar dari beliau yang menarik; “kalau saja kita diberi kebebasan selama dua puluh tahun untuk membina umat, tanpa gangguan dan tekanan penguasa atau konflik dengan mereka, itu sudah cukup untuk mengembalikan kejayaan umat Islam kembali.” Wallahu ‘alam

Francis Fukuyama dengan artikel terkenalnya The End of History and the Last Man menyatakan bahwa setelah Barat menaklukkan rival ideologinya monarkhi, fasisme, dan komunisme, dunia telah mencapai satu konsesus yang luar biasa terhadap demokrasi liberal. Hal tersebut bisa dihitung tahun pertahun begitu banyak Negara yang mulai menerapkan demokrasi liberal.

Yang dimaksudkan oleh Francis Fukuyama, sebagaimana dalam bukunya Trust the Social Virtues and the Creation of prosperity, berakhirnya rezim Uni Soviet sebenarnya seluruh Negara maju telah mengadopsi, dan tengah berusaha untuk mengadopsi lembaga politik demokrasi liberal dan secara simultan bergerak ke arah ekonomi berorientasi pasar dalam penyatuan ke dalam pembagian kerja kapitalis global. Memang menjadi suatu keniscayaan peradaban yang lemah akan mengikuti peradaban yang lebih maju, sebagaimana yang disiratkan oleh ibnu khaldun ‘Siklus Peradaban’. Francis Fukuyama menyatakan hal tersebut sebagai ‘Akhir Sejarah,’ sebagaimana dalam kacamata sejarah Marxis-Hegelian ‘sebagai keniscayaan evolusi masyarakat manusia secara luas menuju satu tujuan akhir.’

Fungsi yang substansial dalam demokrasi liberal adalah menjamin hak-hak individu maupun kelompok dalam bidang politik, social, budaya, ekonomi, dan sebagainya.

Perlu diketahui konvergensi lembaga-lembaga demokrasi liberal dan ekonomi liberal bukan berarti berakhirnya tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat. Dalam kerangka institusional tertentu masyarakat bisa menjadi kaya atau miskin, maju atau menjadi sebuah kemunduran. Dalam memanfaatkan lembaga-lembaga demokrasi dan ekonomi liberal tergantung pada vitalitas masyarakat sipil yang sehat dan dinamis[3].

Lalu bagaimana demokrasi dan ekonomi liberal ini jika diterapkan dalam konteks keindonesiaan? Demokrasi liberal yang sejati sudah jelas memberikan peluang kepada umat Islam untuk berpartisipasi dalam menenntukan nasibnya sendiri, hal ini tentunya tergantung pada vitalitas umat Islam dalam menentukan nasibnya sendiri untuk mengembalikan kejayaan peradabannya (khilafah ‘ala minhajul nubuwwah).

Sebagaimana dalam QS. Al-Imran ; 110 Allah menantang kepada umat Islam untuk menjadi umat yang terbaik dengan melaksanakan 1. Melaksanakan segala progam kebaikan dan kemajuan (amar ma’ruf), 2. Memberantas segala kemiskinan, keterbelakangan (nahi munkar), 3. Meningkatkan spirtualitas (keimanan)[4]. Inilah syarat-syarat yang vital bagi umat Islam untuk mewujudkan khilafah ‘ala minhajul nubuwwah / kejayaan umat Islam.

Kalau hijrahnya Rosulullah dan para sahabatnya ke Madinah adalah untuk mencari kebebasan dalam menyebarkan dakwahnya, butuh kurang lebih 10 tahun untuk mewujudkan cita-cita politik Islam. Sedangkan Yusuf Qhardhawi berandai membutuhkan waktu 20 tahun bagi para aktivis dakwah Ikhwanul Muslimin untuk mengembalikan kejayaan umat Islam. Lalu bagaimana dengan umat Islam di Indonesia?semuanya tergantung pada vitalitas umat Islam untuk memanfaatkan peluang kebebasan yang diberikan oleh demokrasi liberal. Perlu diketahui hanya Negara Indonesia yang memberikan peluang kebebasan bagi umat Islam dalam mewujudkan cita-cita politiknya. Sementara Negara-negara muslim lainnya masih banyak menerapkan system yang otoriter. Jadi wajar harapan Yusuf Qhardhawi bahwa kejayaan perdaban Islam (khilafah ‘ala minhajul nubuwwah) insya allah akan dimulai dari Indonesia. Wallahu ‘alam bis showab.

Selesai jam 23.48 tgl 20 Agustus 2010 di Cililin


[1] Perang Iraq-AS, Mohammad Safari dan Muzzammil Yusuf (ed), Comes; Jakarta, 2003.hal 221

[2] Anis matta, Dari Gerakan ke Negara, Fitrah Rabbani; Jakarta, 2006. Hlm 157

[3] Francis Fukuyama, Trust, The Social Virtues and The Creation of Prosperity (terjemahan), Penerbit Qalam, Yogyakarta, cet. 2, hlm 3-5

[4] Lihat buku Islam, Doktrin, dan Peradaban, karya Nurcholis Madjid

Islam sebagai Ilmu, Paradigma Islam, dan Muslim tanpa Masjid, karya kuntowijoyo

Posted in Uncategorized | Leave a comment

ARIF ABDULHAKIM

By : Iman Munandar

Hakim terdiri dari tiga golongan. Dua golongan hakim masuk neraka dan segolongan hakim lagi masuk surga. Yang masuk surga ialah mengetahui kebenaran hukum dan mengadili dengan hukum tersebut. Bila seorang hakim mengetahui yang haq tapi tidak mengadili dengan hukum tersebut, bahkan bertindak dzalim dalam memutuskan perkara, maka dia masuk neraka. Yang segolongan lagi hakim bodoh, yang tidak mengetahui yang haq dan memutuskan perkara berdasarkan kebodohannya, maka dia juga masuk neraka. ( HR. Abu Dawud dan Aththahawi)

Di akhir sepertiga malam Seorang laki-laki bernama Arif Abdul Hakim menangis tersedu-sedu ketika mengingat hadist tersebut. Dia dan keluarganya tidak ingin terjerumus ke dalam kobaran api neraka, namun godaan duniawi selalu mendorong hatinya untuk menerima hadiah haram agar keputusannya bergeser. Dia hanya mengadu kepada Tuhannya dan memohon dirinya dikuatkan menghadapi cobaan tersebut. Dan dia juga memohon petunjuk kepada-Nya tentang perkara hukum yang ditanganinya.

“Abang gak bangunin dinda sich, biar kita bisa shalat malam bareng.” istri Arif kesal melihat suaminya shalat sendirian.

“Abang bukan gak peduli pada dinda, tapi kasihan pada dinda. Dinda kan baru tidur jam 12 malam, masa harus dibangunkan, Ntar dinda sakit. Abang gak mau si kecil dalam perut dinda sakit gara-gara dinda sakit,” jawab suaminya sambil mengusap-usap keadaan perut istrinya yang sedang mengandung.

“Ah abang bisa aja,” sambil mencubit pinggung suaminya. “Pergi ke masjid sono, ntar terlambat lagi sholat  shubuhnya.”

“Yach dindaku sayang, abang akan pergi ke masjid. I LOVE YOU BIBEH.“

Istrinya tertawa-tawa melihat sikap suaminya yang romantis. Bagi Arif, tindakan romantis terhadap istrinya salah satu cara mengurangi tekanan mental terhadap dirinya yang baru saja berprofesi sebagai hakim. Menjadi hakim yang adil tidaklah mudah, setiap menangani suatu perkara yang sangat berat, di situ selalu datang godaan duniawi agar keputusannya itu bergeser. Inilah yang dihadapi oleh Arif baru pertama kalinya ditunjuk sebagai ketua majelis hakim yang menangani kasus dugaan korupsi yang melibatkan pejabat elit. Kasus ini terbilang sangat berat bagi dirinya sebagai manusia yang lemah.

* * * * * * * * * * *

Dari sidang perdana kasus dugaan korupsi penyimpangan dana proyek pembangunan pusat energy listrik digelar hingga pemeriksaan para saksi menjadi berita utama di berbagai media. Seorang hakim yang terbilang masih muda berani memimpin sidang kasus dugaan korupsi tersebut. Inilah yang menjadi sorotan masyarakat kota B.

Di luar gedung pengadilan, beragam demonstrasi yang pro dan kontra digelar. Yang pro mendesak hakim harus berani memberantas kasus korupsi tanpa pandang bulu. Sementara orang-orang yang kontra meminta hakim segera membebaskan tersangka dari segala tuduhan. Hampir saja terjadi keributan antara dua kubu tersebut, untungnya pihak aparat keamanan lebih sigap melerai dua kubu tersebut.

Setelah mendengarkan dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU), Arif menutup sidang dan akan dilanjutkan sidang putusan hakim pekan depan.

Terdakwa menghampiri para penasehat hukumnya, dan bicara secara berbisik-bisik langkah apa yang harus segera diambilnya!

Sementara di ruang rapat hakim, ketua majelis hakim Arif Abdul Hakim memimpin rapat dan mengarahkan bahayanya budaya korupsi merusak bangsa ini. Hakim harus memutuskan suatu perkara dengan adil berdasarkan ilmu dan peraturan undang-undang yang berlaku. Dia juga menekankan jangan terpengaruh oleh pihak manapun, baik dalam bentuk materil, ancaman, dan lain-lain. Hakim harus tetap mandiri dan mengacu pada Undang-Undang dalam memutuskan suatu perkara.

“Al-hamdulillah, kita telah sepakat terhadap perkara tersebut dengan putusan hukuman yang maksimal. Semoga hati kita dikuatkan menghadapi perkara itu. Amin,” Arif menutup rapat internal majelis hakim yang dipimpinnya.

  • ****************

Saat sore di hari minggu, ketika Arif dan istrinya tengah berada di ruang tamu. Datang dua orang laki-laki dengan gaya pakaian orang kaya ke rumahnya, dua laki-laki tersebut ingin bertemu dengan Arif. Arif segera kuatkan hati dan menyuruh istrinya menyiapkan hidangan buat tamunya. Setelah mereka berbasa-basi, akhirnya mereka berdua mengatakan maksud kedatangannya. Arif diam sejenak, dan berpikir pasti mereka berdua adalah suruhan orang yang ditangani kasus hukum oleh dirinya. Setelah itu, mereka berdua menawarkan sesuatu pada Arif,;

“Apa yang bapak inginkan, pasti kami akan mengabulkan segala permintaan bapak?”

“Bapak menginginkan rumah lebih besar lagi, mobil baru dan mewah, membangun masjid, membangun pesantren, apa saja yang bapak inginkan pasti kami akan mengabulkan segala keinginan bapak”, dua laki-laki tersebut menawarkan yang lebih tinggi lagi.

Arif berdiam sejenak dan berpikir, rumah sudah punya walaupun sederhana, mobil sudah punya walaupun sederhana, masjid sudah banyak, apalagi pesantren di sekitar sini sudah banyak. Segala kebutuhan hidupnya sudah cukup, mau apa lagi ya.. Akhirnya Arif punya ide.

“Bener nih pak, serius mau mengabulkan segala keinginan saya?”

“Ya pak bener, kami serius akan mengabulkan segala keinginan bapak,“ hati mereka riang.

“Ya udah kalau bapak-bapak serius permintaan saya ini“, arif membisikkan suaranya ke telinga salah satu orang diantara mereka.

“Pak, saya ingin Surga, bapak bisa kabulkan permintaan saya ini gak?” Bisik Arif.

“Ah, bapak jangan bercanda”, mereka merasa aneh dengan permintaan Arif.

“Saya gak bercanda, bener saya serius permintaan saya tadi”, Arif merasa menang.

Dua laki-laki tersebut menggeleng kepalanya, dan mustahil mengabulkan permintaan Arif yang aneh dan ganjil. Mereka berdua tahu, bahwa orang ini keras kepala, tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan rumah Arif dengan perasaan jengkel. Arif pun bersyukur dapat menahan dari segala keinginannya, dan dapat mengusir para penggoda dengan halus.

* * * * * * * *  * * * * *

Gedung pengadilan negeri kota Bandung tampak ramai, terutama di ruang 1A sangat penuh melebihi kapasitas ruangan tersebut. Di luar dan dalam ruang sidang beberapa anggota polisi berjaga-jaga. Wartawan bersiap-siap dengan kamera dan alat tulisnya. Ketua dan anggota majelis hakim memasuki ruang sidang. Keluarga terdakwa sangat berharap terbebasnya terdakwa dari jeratan hukum. Sebagian masyarakat ingin melihat, sejauh manakah penegakkan hukum di kota B ini?

Seorang terdakwa kasus dugaan korupsi penyimpangan dana proyek pembangunan pusat energy listrik duduk di hadapan majelis hakim. Dengan wajah cemas mendengarkan alasan disertai pertimbangan hukum terhadap kasus yang dialaminya, serta tuntutan hukum dari Jaksa Penuntut Umum. Seorang terdakwa berharap dirinya terbebas dari jeratan hukum.

Namun setelah majelis hakim membacakan alasan disertai pertimbangan hukumnya, akhirnya majelis hakim menjatuhkan pidana penjara 4 tahun, dan disamping harus membayar kerugian Negara diharuskan membayar denda Rp. 200.000.000,00 terhadap terdakwa kasus dugaan korupsi. Keluarga terdakwa menjerit dan pingsan setelah mendengar putusan majelis hakim. Publik sudah tahu popularitas keluarga terdakwa sebagai pemimpin yang agamis secara turun menurun.

Arif, ketua majelis hakim, sempat tersentak ketika melihat histeris keluarga terdakwa. Dirinya sebagai manusia biasa mempunyai rasa iba dan kasihan terhadap reputasi keluarga terdakwa. Tapi dirinya menyandang profesi sebagai hakim, tidak boleh berpedoman pada perasaan. Hakim harus berpedoman pada pikiran, perasaan keadilan, dan aturan. Dia melihat kedepan, untuk mencegah rusaknya kota B ini dari korupsi, maka para pelakunya harus disikat dengan menjatuhkan hukuman yang maksimal.

Dia bersyukur atas didikan orang tua dan guru ngajinya dalam mengajarkan nilai-nilai Islam terhadap dirinya. Kejujuran dan rasa bersyukur akan nikmat Allah yang ditanamkan oleh kedua orang tua dan guru ngajinya sangat berarti bagi dirinya. Kejujuran bagi seorang hakim dalam menyelesaikan dan memutuskan suatu perkara, sangat diharapkan oleh masyarakat. Kejujuran yang dimiliki oleh seorang hakim akan melahirkan keadilan. Arif mensyukuri apa yang diterimanya, yang namanya dunia tidak akan ada ujungnya. Pandai bersyukur, akan mencegah rasa iri terhadap kekayaan orang lain. Pandai bersyukur juga mencegah giuran cantiknya hiasan dunia.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jadilah Kitab Walau tanpa Judul

By; KH Hilmi Aminuddin

Jadilah kitab yang bermanfaat walau tanpa judul. Namun, jangan menjadi judul tanpa kitab. Pepatah bahasa arab itu menyiratkan makna yang dalam, terutama menyangkut kondisi bangsa saat ini yang sarat konflik perebutan kekuasaan dan pengabaian amanah oleh pemimpin-pemimpin yang tidak menebar manfaat dengan jabatan dan otoritas yang dimilikinya. Bangsa ini telah kehilangan ruhiyah jundiyah, yakni jiwa kesatria. Judiyah adalah karakter keprajuritan yang didalamnya terkandung jiwa kesatria sebagaimana diwariskan pejuang dan ulama bangsa ini saat perjuangan kemerdekaan.

Semangat perjuangan (hamasah jundiyah) adalah semangat untuk berperan dan bukan semangat untuk mengejar jabatan, posisi, dan gelar-gelar duniawi lainnya (hamasah manshabiyah). Saat ini, jiwa ksatria itu makin menghilang. Sebaliknya muncul jiwa-jiwa kerdil dan pengecut yang menginginkan otoritas, kekuasaan dan jabatan, tetapi tidak mau bertanggung jawab, apalagi berkurban. Yang terjadi adalah perebutan jabatan, baik di parpol politik, ormas, maupun pemerintahan. Orang berlomba-lomba mengikuti persaingan untuk mendapatkan jabatan, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Akibatnya, di negeri ini banyak orang yang memiliki “judul”, baik judul akademis, judul keagamaan, judul kemiliteran, maupun judul birokratis, yang tanpa makna. Ada judulnya, tetapi tanpa substansi, tanpa isi, dan tanpa roh.

Padahal, ada kisah-kisah indah dan heroic berbagai bangsa di dunia. Misalnya, dalam sirah shahabah, disebutkan bahwa said bin zaid pernah menolak amanah menjadi gubernur Himsh (Syria). Hal ini membuat Umar bin Khattab RA mengcengkeram leher gamisnya seraya menghardiknya, “celaka kau, Said! Kau berikan beban yang berat dipundakku dan kau menolak membantuku.” Baru kemudian, dengan berat hati, Said bin Zaid mau menjadi gubernur.

Ada lagi kisah lain, yaitu Umar bin Khattab memberhentikan Khalid bin Walid pada saat memimpin perang. Hal ini dilakukan untuk menghentikan pengultusan kepada sosok panglima yang selalu berhasil memenangkan peperangan ini. Khalid menerimanya dengan ikhlas. Dengan singkat, ia berujar, “Aku berperang karena Allah dan bukan karena Umar atau jabatanku sebagai panglima.” Ia pun tetap berperang sebagai seorang prajurit biasa. Khalid dicopot “judul”-nya sebagai panglima perang, namun, ia tetap membuat “kitab” dan membantu menorehkan kemenangan.

Ibrah yang bias dipetik dari kisah-kisah tersebut adalah janganlah menjadi judul tanpa kita;memiliki pangkat, tetapi tidak menuai manfaat. Maka, ruuhul jundiyah atau jiwa ksatria yang penuh pengorbanan harus dihadirkan kembali di tengah bangsa ini sehingga tidak timbul hubbul manaashib, yaitu cinta kepada kepangkatan, jabatan-jabatan, bahkan munafasah ‘alal manashib, berlomba-lomba untuk meraih jabatan-jabatan, Semoga.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PERAN MANUSIA DALAM MENGELOLA EKOSISTEM MENURUT PERSPEKTIF AL-QUR’AN

By; Iman Munandar

Sebelum berbicara masalah peran manusia dalam mengelola ekosistem, sebaiknya kita memahami dulu tentang manusia. Karena manusia adalah salah satu unsur yang sangat penting dan tak terpisahkan dengan alam ini. Dalam tulisan ini, kita mencoba memahami manusia dan perannya dalam mengelola lingkungan hidup atau ekosistem menurut perspektif al-Qur’an.

Manusia adalah kholifah Tuhan di bumi[1]. Kata kholifah menunjukan arti sebagai pengganti atau pemimpin. Ini menunjukan bahwa Manusia diperintahkan untuk melaksanakan hukum-hukum Allah dalam mengelola tatanan kehidupan di bumi. Tujuannya ialah untuk kebaikan manusia itu sendiri[2]. Manusia mempunyai tanggung jawab dalam mengelola kehidupan di bumi dengan sebaik-baiknya.

Tujuan manusia diciptakan oleh Allah semata-mata untuk menyembah-Nya. Sebagaimana firman Allah : “wahai manusia ! sembahlah tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa..” [3]. Kata kholifah dan maksud ayat tersebut memiliki arti yang sangat erat sekali, manusia sebagai pemimpin yang mengatur tatanan kehidupan di bumi dalam rangka beribadah kepada-Nya. Ini menunjukkan bahwa manusia sebagai kholifah, segala perbuatanya harus sesuai dengan rambu-rambu syari’at agar tidak terjadi penyelewengan dalam pengelolaan.

Sebelum manusia mengelola tatanan kehidupan di bumi, setiap manusia haruslah memahami dan menyadari akan dirinya. Barulah setelah itu, ia harus tahu ilmu dalam mengelola lingkungan hidup atau ekosistem sebelum mengelolanya. Dalam pengelolaan ekosistem haruslah sesuai dengan rambu-rambu syari’at, ini dimaksudkan agar tidak terjadi penyelewengan yang akan menimbulkan kerusakan pada ekosistem itu sendiri.

Salah satu contohnya ialah, Prinsip kebebasan personal setiap individu telah merusak moralitas umat saat ini. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Bertrand Russel, bahwa kebebasan personal setiap individu harus dihormati dan dilindungi, selama tidak bertabrakan dengan kebebasan yang lain. Dengan perkataan lain, kebebasan individu hanya dibatasi oleh kebebasan individu lain.

Filsafat kebebasan personal setiap individu yang dikemukakan oleh Russel mendapat sorotan kritikan yang tajam dari Murtadha Muthahhari seorang ulama iran. Kritikannya seperti ini :

“sementara itu, mereka menganjurkan hal-hal yang dapat menjaga kepentingan masyarakat, sejauh dapat memelihara kedudukan sebagai bapak dan pemeliharaan anak-anak. Sesuai dengan penjaga-penjaga kepentingan masyarakat yang diusulkan itu, seorang istri harus melahirkan anak suaminya saja. Di luar itu, ia bebas memenuhi dorongan seksualnya, dengan menggunakan alat-alat kontrasepsi, bukan saja menghindari kehamilan, tetapi juga memungkinkan ia mengabaikan kendala-kendala moral tradisional yang berupa kesucian dan kesetiaan, jika ia mau.

“dalam konteks diatas, kita perlu menelaah lebih lanjut dua implikasi yang berkenaan dengan kebebasan individu. Implikasi pertama timbul dari anggapan modernitas bahwa kebebasan personal tidak dapat dibatasi kecuali oleh kebebasan orang lain dan kebutuhan untuk menghormati kebebasan orang lain. Implikasi kedua berkenaan dengan kenyataan bahwa hubungan seksual yang perlu memelihara kedudukan bapak dan ikatan kasih sayang anak tidak menyangkut hubungan lebih lanjut dengan masyarakat, hubungan public dan prerogatif social.

“sehubungan dengan kebebasan personal, marilah kita ulas filsafat yang mendasarinya. Hal yang esensial dalam mengelola kebebasan personal, dalam menjaga hak orang untuk mendapat perlindungan, adalah kebutuhannya untuk secara berangsur-angsur mengembangkan cara yang harmonis dan terhormat dalam memajukan kehidupan individu, menuju peningkatan kemampuannya yang lebih tinggi. Perhatian yang tepat pada kebutuhan yang disebut tadi jelas sekali tidak ada dalam beberapa penafsiran barat atau penerapan konsep kebebasan personal. Dalam keadaan apa pun, kebebasan individu tidak boleh membawa kepada kelonggaran seksual yang menyebabkan orang mengeksploitasi hawa nafsu dan hasrat-hasrat yang egois. Karena konsepsi yang salah tentang kebebasan personal tidak dapat didorong atau dihormati oleh orang-orang yang dapat menyadari akibat-akibatnya yang berbahaya.

“bahwa kebebasan personal individu, yang lahir bebas dan hasrat-hasrat yang terpendam dan kemauan-kemauannya, harus dipelihara selama ia menghormati hak-hak orang lain akan sangat menyesatkan. Karena, di samping adanya kebutuhan untuk menghindari konflik interpersonal yang terbuka, setiap masyarakat perlu juga mengenal bahwa kepentingan yang lebih besar dan lebih luhur dari individu itu sendiri harus secara sadar membatasi kebebasannya. Terus menerus mengabaikan syarat-syarat moral yang disebut diatas dapat memperburuk kerusakan yang sudah terjadi pada konsep dasar moralitas dan kesalahan yang telah terjadi pada pemahaman kebebasan personal[4].

Prinsip kebebasan personal, tanpa rambu-rambu syari’at, telah menyebabkan kerusakan moralitas individu, keluarga, dan keluarga. Kerusakan moralitas ini telah menimbulkan kerusakan yang parah terhadap ekosistem itu sendiri. Itu telah terbukti sebagaimana firman Allah : “telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).[5]

Daftar Pustaka

Fazlur Rahman, Tema Pokok Al-Qur’an, Bandung : Pustaka, 1996

Murtadha Muthahhari, Manusia dan Agama menurut perspektif Al-Qur’an, Bandung : Mizan,1992.

Al-Qur’an terjemahan, Bandung : PT. As-Syamil, 2004.

M. Munandar Soelaeman, ISD, Bandung : PT. Eresco,1995.


[1] Q.S. al-Baqarah : 30

[2] Q.S. al-Baqarah : 286

[3] Q.S. al-Baqarah : 21

[4] Kutipan ini dikutip dari buku manusia dan agama, karangan murthada muthahhari. Hal 21-23.

[5] Q.S. ar-Rum : 41.

Posted in Uncategorized | 2 Comments