PERAN MANUSIA DALAM MENGELOLA EKOSISTEM MENURUT PERSPEKTIF AL-QUR’AN

By; Iman Munandar

Sebelum berbicara masalah peran manusia dalam mengelola ekosistem, sebaiknya kita memahami dulu tentang manusia. Karena manusia adalah salah satu unsur yang sangat penting dan tak terpisahkan dengan alam ini. Dalam tulisan ini, kita mencoba memahami manusia dan perannya dalam mengelola lingkungan hidup atau ekosistem menurut perspektif al-Qur’an.

Manusia adalah kholifah Tuhan di bumi[1]. Kata kholifah menunjukan arti sebagai pengganti atau pemimpin. Ini menunjukan bahwa Manusia diperintahkan untuk melaksanakan hukum-hukum Allah dalam mengelola tatanan kehidupan di bumi. Tujuannya ialah untuk kebaikan manusia itu sendiri[2]. Manusia mempunyai tanggung jawab dalam mengelola kehidupan di bumi dengan sebaik-baiknya.

Tujuan manusia diciptakan oleh Allah semata-mata untuk menyembah-Nya. Sebagaimana firman Allah : “wahai manusia ! sembahlah tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa..” [3]. Kata kholifah dan maksud ayat tersebut memiliki arti yang sangat erat sekali, manusia sebagai pemimpin yang mengatur tatanan kehidupan di bumi dalam rangka beribadah kepada-Nya. Ini menunjukkan bahwa manusia sebagai kholifah, segala perbuatanya harus sesuai dengan rambu-rambu syari’at agar tidak terjadi penyelewengan dalam pengelolaan.

Sebelum manusia mengelola tatanan kehidupan di bumi, setiap manusia haruslah memahami dan menyadari akan dirinya. Barulah setelah itu, ia harus tahu ilmu dalam mengelola lingkungan hidup atau ekosistem sebelum mengelolanya. Dalam pengelolaan ekosistem haruslah sesuai dengan rambu-rambu syari’at, ini dimaksudkan agar tidak terjadi penyelewengan yang akan menimbulkan kerusakan pada ekosistem itu sendiri.

Salah satu contohnya ialah, Prinsip kebebasan personal setiap individu telah merusak moralitas umat saat ini. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Bertrand Russel, bahwa kebebasan personal setiap individu harus dihormati dan dilindungi, selama tidak bertabrakan dengan kebebasan yang lain. Dengan perkataan lain, kebebasan individu hanya dibatasi oleh kebebasan individu lain.

Filsafat kebebasan personal setiap individu yang dikemukakan oleh Russel mendapat sorotan kritikan yang tajam dari Murtadha Muthahhari seorang ulama iran. Kritikannya seperti ini :

“sementara itu, mereka menganjurkan hal-hal yang dapat menjaga kepentingan masyarakat, sejauh dapat memelihara kedudukan sebagai bapak dan pemeliharaan anak-anak. Sesuai dengan penjaga-penjaga kepentingan masyarakat yang diusulkan itu, seorang istri harus melahirkan anak suaminya saja. Di luar itu, ia bebas memenuhi dorongan seksualnya, dengan menggunakan alat-alat kontrasepsi, bukan saja menghindari kehamilan, tetapi juga memungkinkan ia mengabaikan kendala-kendala moral tradisional yang berupa kesucian dan kesetiaan, jika ia mau.

“dalam konteks diatas, kita perlu menelaah lebih lanjut dua implikasi yang berkenaan dengan kebebasan individu. Implikasi pertama timbul dari anggapan modernitas bahwa kebebasan personal tidak dapat dibatasi kecuali oleh kebebasan orang lain dan kebutuhan untuk menghormati kebebasan orang lain. Implikasi kedua berkenaan dengan kenyataan bahwa hubungan seksual yang perlu memelihara kedudukan bapak dan ikatan kasih sayang anak tidak menyangkut hubungan lebih lanjut dengan masyarakat, hubungan public dan prerogatif social.

“sehubungan dengan kebebasan personal, marilah kita ulas filsafat yang mendasarinya. Hal yang esensial dalam mengelola kebebasan personal, dalam menjaga hak orang untuk mendapat perlindungan, adalah kebutuhannya untuk secara berangsur-angsur mengembangkan cara yang harmonis dan terhormat dalam memajukan kehidupan individu, menuju peningkatan kemampuannya yang lebih tinggi. Perhatian yang tepat pada kebutuhan yang disebut tadi jelas sekali tidak ada dalam beberapa penafsiran barat atau penerapan konsep kebebasan personal. Dalam keadaan apa pun, kebebasan individu tidak boleh membawa kepada kelonggaran seksual yang menyebabkan orang mengeksploitasi hawa nafsu dan hasrat-hasrat yang egois. Karena konsepsi yang salah tentang kebebasan personal tidak dapat didorong atau dihormati oleh orang-orang yang dapat menyadari akibat-akibatnya yang berbahaya.

“bahwa kebebasan personal individu, yang lahir bebas dan hasrat-hasrat yang terpendam dan kemauan-kemauannya, harus dipelihara selama ia menghormati hak-hak orang lain akan sangat menyesatkan. Karena, di samping adanya kebutuhan untuk menghindari konflik interpersonal yang terbuka, setiap masyarakat perlu juga mengenal bahwa kepentingan yang lebih besar dan lebih luhur dari individu itu sendiri harus secara sadar membatasi kebebasannya. Terus menerus mengabaikan syarat-syarat moral yang disebut diatas dapat memperburuk kerusakan yang sudah terjadi pada konsep dasar moralitas dan kesalahan yang telah terjadi pada pemahaman kebebasan personal[4].

Prinsip kebebasan personal, tanpa rambu-rambu syari’at, telah menyebabkan kerusakan moralitas individu, keluarga, dan keluarga. Kerusakan moralitas ini telah menimbulkan kerusakan yang parah terhadap ekosistem itu sendiri. Itu telah terbukti sebagaimana firman Allah : “telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).[5]

Daftar Pustaka

Fazlur Rahman, Tema Pokok Al-Qur’an, Bandung : Pustaka, 1996

Murtadha Muthahhari, Manusia dan Agama menurut perspektif Al-Qur’an, Bandung : Mizan,1992.

Al-Qur’an terjemahan, Bandung : PT. As-Syamil, 2004.

M. Munandar Soelaeman, ISD, Bandung : PT. Eresco,1995.


[1] Q.S. al-Baqarah : 30

[2] Q.S. al-Baqarah : 286

[3] Q.S. al-Baqarah : 21

[4] Kutipan ini dikutip dari buku manusia dan agama, karangan murthada muthahhari. Hal 21-23.

[5] Q.S. ar-Rum : 41.

About these ads

About brigdhero

BERGERAK ATAU TERGANTIKAN
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to PERAN MANUSIA DALAM MENGELOLA EKOSISTEM MENURUT PERSPEKTIF AL-QUR’AN

  1. annisa kendalya says:

    tulisannya bareurat uy…
    jiga mahasisiwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s